Papan Reklame Ambruk di Mal Singapura, Seorang Anak Dilarikan ke Rumah Sakit
Baca dalam 60 detik
- Seorang anak laki-laki menjadi korban ambruknya papan nama di Food Junction, Rivervale Mall, Singapura, pada Sabtu pagi.
- Insiden ini memicu investigasi menyeluruh oleh pengelola mal dan otoritas bangunan setempat untuk memastikan keselamatan fasilitas publik.
- Kejadian serupa di Indonesia, seperti robohnya papan reklame di Jakarta, menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap konstruksi di area publik.

Seorang anak laki-laki harus dilarikan ke rumah sakit setelah papan nama sebuah gerai makanan di Food Junction, Rivervale Mall, Sengkang, Singapura, ambruk pada Sabtu (20/6) pagi. Insiden yang terjadi sekitar pukul 10.30 waktu setempat ini langsung mendapat respons cepat dari otoritas setempat, termasuk Pasukan Pertahanan Sipil Singapura (SCDF) yang membawa korban ke KK Women’s and Children’s Hospital.
Juru bicara Food Junction membenarkan kejadian tersebut dan menyatakan bahwa tim manajemen segera berkoordinasi dengan pengelola mal serta petugas darurat untuk memberikan pertolongan kepada pelanggan yang mengalami cedera. “Kami telah melakukan evaluasi menyeluruh dan investigasi untuk menentukan penyebab insiden, serta memperkuat semua langkah keselamatan sesuai arahan otoritas terkait,” ujarnya dalam keterangan resmi. Setelah mendapat perawatan medis, korban dilaporkan sudah diperbolehkan pulang dan sedang beristirahat di rumah.
Video yang beredar di media sosial TikTok memperlihatkan puing-puing papan nama berserakan di pintu masuk Food Junction, sementara sebagian langit-langit masih tampak utuh. Pengunjung yang berada di lokasi terlihat menjaga jarak dari area reruntuhan. Hingga berita ini diturunkan, pengelola mal dan Otoritas Bangunan dan Konstruksi (BCA) Singapura masih melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Insiden ini mengingatkan pada sejumlah kasus serupa di Indonesia, seperti robohnya papan reklame di kawasan Sudirman, Jakarta, beberapa waktu lalu yang menimbulkan korban jiwa. Peristiwa tersebut menyoroti lemahnya pengawasan terhadap konstruksi dan pemeliharaan fasilitas publik, baik di mal maupun di tepi jalan. Di Indonesia, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Cipta Karya kerap menemukan papan reklame yang tidak laik fungsi, namun penegakan aturan masih belum optimal. Kejadian di Singapura ini bisa menjadi pelajaran bagi pengelola pusat perbelanjaan di Indonesia untuk lebih ketat dalam melakukan inspeksi berkala terhadap semua elemen bangunan, terutama yang berpotensi membahayakan pengunjung.
Menurut analis keselamatan publik, insiden seperti ini sering kali disebabkan oleh faktor kelelahan material, pemasangan yang tidak sesuai standar, atau kurangnya perawatan rutin. “Papan nama dan elemen dekoratif di area publik harus mendapat perhatian khusus karena bobotnya yang signifikan dan posisinya yang sering kali di atas area lalu lintas tinggi,” ujar seorang pakar konstruksi yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa audit berkala oleh pihak ketiga yang independen dapat menjadi solusi untuk meminimalkan risiko.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah otoritas di Singapura akan menerapkan sanksi lebih tegas terhadap pengelola mal atau penyewa yang lalai dalam pemeliharaan. Di Indonesia, kasus serupa sering kali berakhir dengan pencabutan izin reklame sementara, namun belum ada standar nasional yang mewajibkan asuransi kecelakaan bagi korban. Masyarakat pun diharapkan lebih waspada dan melaporkan potensi bahaya di lingkungan sekitar kepada pihak berwenang.


