Siap Tampil Penuh Lawan Kroasia, Saka Akui Pertaruhkan Kondisi Fisik
Baca dalam 60 detik
- Bukayo Saka mengaku siap tampil penuh di laga perdana Piala Dunia 2026 melawan Kroasia, meski masih dalam pemulihan cedera Achilles.
- Winger Arsenal itu menyebut keputusannya untuk terus bermain sambil mengelola cedera adalah 'judi' yang harus ia ambil demi tim.
- Manajer Inggris Thomas Tuchel dihadapkan pada dilema klasik: memaksimalkan kontribusi Saka tanpa memperparah cederanya.

Bukayo Saka menegaskan kesiapannya untuk tampil sejak menit pertama saat Inggris menghadapi Kroasia di laga pembuka Piala Dunia 2026, Rabu (14/6) waktu setempat. Meski sejak Maret lalu bergelut dengan cedera Achilles, winger Arsenal itu tak ragu mengambil risiko demi membela The Three Lions.
Sejak mengalami masalah pada tendon Achilles, Saka harus menjalani manajemen menit bermain ketat, baik di Arsenal maupun tim nasional. Ia absen pada jeda internasional Maret lalu dan melewatkan tujuh pertandingan bersama The Gunners, namun kembali tepat waktu untuk mengantar klubnya meraih gelar Premier League setelah 22 tahun puasa.
Manajer Inggris Thomas Tuchel sebelumnya mengakui perlunya perlakuan khusus terhadap pemain 24 tahun itu. Menurut Tuchel, sangat tidak mungkin Saka bermain penuh di semua laga Piala Dunia. Namun Saka justru menyatakan siap jika dimainkan selama 90 menit melawan Kroasia di Dallas.
"Saya tidak ingin berbicara di luar arahan manajer. Yang bisa saya katakan, sejak Maret tim medis Arsenal dan Inggris telah menangani saya dengan luar biasa. Saya merasa lebih baik dari beberapa bulan terakhir dan siap tampil," ujar Saka dalam konferensi pers, seperti dikutip BBC Sport.
Saka mengakui bahwa tampil dalam kondisi tidak 100 persen fit adalah sebuah "judi" yang harus ia ambil. Ia sadar penampilannya akan tetap dinilai tanpa mempertimbangkan kondisi fisiknya. "Orang tidak peduli bagaimana perasaan Anda, mereka hanya menuntut Anda tampil. Saya senang mengambil risiko itu, dan sejauh ini berhasil. Saya akan terus melakukannya," tegasnya.
Kritik sempat dialamatkan pada Saka setelah ia ditarik keluar saat Arsenal kalah dari Paris Saint-Germain di final Liga Champions, ketika skor masih imbang. Namun ia tak ambil pusing. "Itu risiko terbesar sebagai pemain. Anda bisa memilih tidak bermain, atau tampil dan dinilai sama. Saya memilih yang kedua," tambahnya.
Di sisi lain, persaingan ketat terjadi di sayap kanan Inggris. Saka bersaing dengan rekan setimnya di Arsenal, Noni Madueke. Meski berebut tempat, keduanya justru menjalin hubungan erat. "Ini unik, dua pemain di posisi sama bisa sedekat ini. Noni seperti saudara, kami saling mendorong dan berbicara setiap hari. Yang penting, kami satu tim dan keberhasilan salah satu adalah kebaikan bersama," jelas Saka.
Tuchel kini menghadapi dilema yang sama seperti pendahulunya, Gareth Southgate. Saka terlalu penting untuk dicadangkan, terlalu berpengaruh untuk dirotasi sembarangan, dan terlalu berharga untuk dipaksakan hingga cedera. Inggris tidak membutuhkannya bermain setiap menit, melainkan tersedia di momen-momen krusial.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Saka menjadi pengingat betapa tipisnya garis antara ambisi dan kesehatan atlet. Di tengah jadwal padat, manajemen beban pemain menjadi kunci. Akankah Tuchel berani mengambil keputusan sulit demi menjaga aset terbesarnya?



