Arsenal Sepakat dengan Manu Kone: Gelandang Bertenaga untuk Duet dengan Rice
Baca dalam 60 detik
- Arsenal dikabarkan telah mencapai kesepakatan personal dengan gelandang Roma, Manu Kone, dengan nilai transfer mencapai £43 juta.
- Kone dianggap sebagai tipe gelandang box-to-box yang agresif, mirip Declan Rice, untuk mengatasi kelemahan progresi bola yang dialami Martin Zubimendi.
- Langkah ini menjadi prioritas Arsenal di bursa transfer untuk memperkuat lini tengah setelah Zubimendi kelelahan di akhir musim.

Arsenal dikabarkan telah menyetujui persyaratan pribadi dengan gelandang Roma, Manu Kone, dalam kesepakatan senilai £43 juta. Langkah ini menjadi sinyal bahwa The Gunners serius memperkuat lini tengah setelah musim lalu menunjukkan kelemahan di sektor progresi bola saat memasuki fase krusial.
Menurut laporan dari Italia yang dikutip Sport Witness, Kone sebelumnya lebih memilih bergabung dengan PSG, namun juara Liga Champions itu tidak menunjukkan minat untuk membawa pulang pemain asal Prancis tersebut. Arsenal pun bergerak cepat dengan membuka negosiasi dan akhirnya mencapai kata sepakat secara personal. Kini, klub asal London Utara itu tengah mempertimbangkan untuk mengajukan tawaran resmi ke Roma agar transfer bisa segera terealisasi.
Manu Kone bukanlah satu-satunya target di lini tengah. Arsenal juga dikaitkan dengan Morgan Rogers (Aston Villa), Christos Tzolis (Club Brugge), Bradley Barcola (PSG), dan Ayyoub Bouaddi. Namun, profil Kone dinilai paling cocok untuk mengisi peran yang selama ini menjadi titik lemah: kemampuan membawa bola ke depan dan duel fisik yang kuat.
Musim lalu, duet Declan Rice dan Martin Zubimendi tampil gemilang di sebagian besar musim. Rice bahkan memuji kecerdasan Zubimendi dalam mengatur ritme permainan. Namun, memasuki akhir musim, Zubimendi kelelahan akibat menit bermain yang tinggi dan performanya menurun drastis. Ia digantikan oleh Myles Lewis-Skelly yang lebih segar. Salah satu kelemahan utama Zubimendi adalah ketidakmampuannya dalam memprogresikan bola ke depan, sesuatu yang justru menjadi kekuatan Kone.
Kone hadir sebagai solusi atas masalah tersebut. Dengan postur fisik yang kuat dan kemampuan duel yang agresif, ia dianggap sebagai versi lebih destruktif dari Zubimendi. Perbandingan statistik antara keduanya menunjukkan perbedaan signifikan: Kone unggul dalam hal dribel progresif dan membawa bola, sementara Zubimendi lebih mengandalkan visi dan operan pendek. Pelatih Mikel Arteta dikabarkan sangat menginginkan kehadiran pemain yang bisa memenangkan duel secara konsisten, dan Kone memenuhi kriteria itu.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, langkah Arsenal ini menarik untuk diikuti. Klub-klub Premier League kerap menjadi barometer transfer pemain top, dan keputusan Arsenal merekrut Kone bisa mempengaruhi persaingan di liga. Selain itu, gaya bermain Kone yang mirip dengan Rice—fisik kuat dan agresif—bisa menjadi contoh bagi pemain muda Indonesia yang bercita-cita bermain di Eropa. Pertanyaannya, mampukah Kone beradaptasi dengan cepat di Premier League dan menjadi mitra ideal Rice di lini tengah?



