Petani Bangladesh Bentangkan Bendera Jerman Raksasa Demi Cinta pada Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Seorang petani di Bangladesh, Amjad Hossain, membentangkan bendera Jerman sepanjang 7,5 kilometer di lahannya sebagai bentuk dukungan untuk timnas Jerman di Piala Dunia 2026.
- Kecintaannya pada Jerman bermula dari pengalaman sembuh dari penyakit serius berkat obat buatan Jerman pada 2004-2005, yang kemudian mendorongnya untuk terus memperbesar ukuran bendera setiap turnamen.
- Kisah Hossain menyoroti fenomena unik di Bangladesh, di mana sepak bola sangat populer meski tim nasionalnya berada di peringkat 181 FIFA, dan ia bahkan diangkat menjadi anggota seumur hidup klub penggemar Jerman.

Di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia 2026, seorang petani berusia 72 tahun dari distrik Magura, Bangladesh, memilih cara tak lazim untuk menunjukkan dukungannya. Amjad Hossain membentangkan bendera Jerman raksasa sepanjang 7,5 kilometer di atas lahannya, sebuah pemandangan yang kontras dengan mayoritas penggemar di negara itu yang lebih memilih Brasil atau Argentina.
Bendera hitam, merah, dan kuning itu meliuk-liuk di antara hamparan sawah hijau, menjadi simbol cinta Hossain pada timnas Jerman yang telah ia pelihara selama hampir dua dekade. Pada Rabu (10/6), sehari sebelum turnamen dimulai, ia menggelar bendera tersebut di hadapan tetangga dan kerumunan yang diyakininya juga pendukung Jerman. Bagi Hossain, Jerman bukan sekadar tim sepak bola, melainkan negara yang pernah menyelamatkan hidupnya.
Kisah ini bermula pada 2004-2005, saat Hossain menderita sakit parah. "Saya sakit parah pada 2004 dan 2005, dan obat Jerman menyembuhkan saya," ujarnya. Sejak saat itu, ia jatuh cinta pada Jerman dan sepak bolanya. Untuk Piala Dunia 2006 yang digelar di Jerman, ia memulai dengan bendera sepanjang 1,5 kilometer. Setiap turnamen berikutnya, ia terus memperpanjang benderanya, kadang dengan menjual sebagian tanah miliknya untuk membiayai pembuatan spanduk yang lebih besar dan mengadakan pesta nonton.
Fenomena Hossain menunjukkan betapa besarnya gairah sepak bola di Bangladesh, meski tim nasionalnya berada di peringkat 181 FIFA. Negara yang tak pernah lolos ke Piala Dunia ini justru memiliki basis penggemar yang fanatik terhadap tim-tim asing. Hossain, dengan pilihan tim yang tidak populer, justru mendapat apresiasi dari Jerman. Klub penggemar Jerman bahkan memberinya status anggota seumur hidup.
Bagi Indonesia, kisah Hossain bisa menjadi cermin. Di Tanah Air, sepak bola juga memiliki basis penggemar yang luar biasa, meski prestasi tim nasional masih naik-turun. Fenomena seperti Hossain mengingatkan bahwa sepak bola mampu melampaui batas geografis dan politik, menciptakan ikatan emosional yang kuat antara individu dan negara yang jauh. Dukungan tanpa pamrih seperti ini jarang terlihat di era komersialisasi olahraga saat ini.
Hossain berharap benderanya suatu hari bisa dipajang di museum Jerman, dan ia bisa menyaksikan langsung tim kesayangannya berlaga. "Saya berharap suatu hari saya punya kesempatan," katanya. Jerman sendiri akan memulai kampanye melawan Curacao, disusul Pantai Gading dan Ekuador di Grup E. Terlepas dari hasil akhir, kisah Hossain telah menjadi bukti bahwa cinta pada sepak bola bisa berwujud seunik dan sebesar apa pun.


