Rumah Toko Warisan di Singapura: Kanvas Seni, Desain Skandinavia, dan Kenangan Keluarga
Baca dalam 60 detik
- Lena Koh mengubah rumah toko di Mount Sophia menjadi galeri pribadi yang memadukan arsitektur kolonial, furnitur Denmark, dan koleksi seni kontemporer Asia.
- Proyek restorasi seluas 360 meter persegi ini mempertahankan fasad asli sambil menambahkan sayap modern, menciptakan ruang yang memadukan fungsi keluarga dan pameran seni.
- Rumah ini menjadi model bagaimana properti bersejarah dapat diadaptasi untuk kehidupan modern tanpa kehilangan karakter, menginspirasi tren serupa di kota-kota Asia seperti Jakarta dan Surabaya.

Di balik pintu pagar kaca patri yang ikonik, sebuah rumah toko di Mount Sophia, Singapura, menjelma menjadi ruang hidup yang merayakan perpaduan antara warisan arsitektur abad ke-19, seni kontemporer, dan desain Skandinavia. Bukan sekadar tempat tinggal, properti ini adalah cerminan perjalanan hidup pemiliknya, Lena Koh, yang telah menetap di tujuh kota berbeda.
Koh, yang menghabiskan sebagian besar kariernya di bidang humas dan periklanan di kawasan Asia, mulai serius mengoleksi seni pada 2013 sebagai cara untuk terhubung dengan ketiga anaknya yang berkecimpung di dunia kreatif. Kini, ia menjadi pemandu sukarela di Museum Seni Singapura dan beberapa jalur warisan budaya. “Memandu seni memaksa saya berpikir kritis dan membuka perspektif baru,” ujarnya.
Kecintaannya pada rumah toko berawal dari kunjungan ke Melaka pada 1991, saat ia terpesona oleh skylight sebuah kafe galeri di Heeren Street. Butuh tiga tahun baginya untuk menemukan unit yang sesuai dengan persyaratan feng shui keluarganya. “Posisi elemen harus cocok dengan horoskop astrologi kami untuk menjamin kesehatan dan stabilitas,” jelas Koh. Ia kemudian menggandeng Envelope Architects untuk merestorasi bagian depan dan membangun ekstensi tiga lantai di belakang, dengan tangga yang dihubungkan oleh jendela kaca baja di samping halaman.
Interior rumah memadukan furnitur Denmark—seperti meja Superellipse karya Piet Hein dan kursi Series 7—dengan artefak Asia yang dikumpulkan selama perjalanan. “Saya ingin mencapai estetika Skandinavia-Asia,” kata Koh. Koleksinya mencakup karya seniman Singapura seperti Alvin Goh (mural frangipani di kamar mandi utama), Melissa Tan (pemenang Young Artist Award 2023), dan Hu Qiren yang menggunakan loop masker wajah untuk membentuk gambar pesawat terbang.
Rumah ini juga menjadi galeri bagi karya anak-anak Koh. Putra sulungnya, Brandon Tay, adalah seniman multimedia yang karyanya telah dipamerkan di Singapore Biennale 2025. Putri keduanya, Sophia Koh Maltesen, menjabat sebagai kepala konten dan afiliasi produk TikTok di AS, sementara putri bungsu, Sara-ling Koh Maltesen, pernah menjadi direktur seni visual di Apple dan kini menempuh kursus pra-magister di Royal College of Art London. Karya Sara-ling berjudul Contaminated Victims tentang polusi lingkungan dipajang di ruang tamu lantai dua. “Karena anak-anak saya di luar negeri, karya mereka membuat mereka tetap dekat,” ujar Koh.
Ruang tamu dengan langit-langit tinggi diterangi tiga jendela fasad dan tangga. Di sini, Koh kerap mengadakan salon seni—acara yang mempertemukan kolektor dan seniman. “Saat saya membeli karya, saya mengadakan resepsi di rumah agar seniman bisa menjelaskan praktiknya,” katanya. Baru-baru ini, ia menampilkan seniman Singapura/Taiwan Benedict Yu yang berkarya langsung di lokasi. Koh juga berencana menyoroti seniman Melayu dan India. “Impian saya mendukung seniman lokal sekecil apa pun,” tambahnya.
Bagi Indonesia, kisah Koh menawarkan inspirasi tentang bagaimana properti cagar budaya—seperti rumah toko di kawasan Kota Tua Jakarta atau Jalan Pemuda Surabaya—dapat diadaptasi tanpa kehilangan jiwa. Dengan meningkatnya minat pada desain interior yang memadukan lokal dan global, pendekatan Koh bisa menjadi cetak biru bagi para kolektor dan pengembang properti di Tanah Air. Pertanyaannya, akankah makin banyak pemilik rumah toko di Indonesia berani mengikuti jejak serupa, atau justru memilih meratakan bangunan bersejarah demi proyek baru?


