Uang Bertanda: Jebakan Majikan Bongkar Aksi Pembersih Rumah Curi Rp1,5 Juta
Baca dalam 60 detik
- Seorang pekerja kebersihan asal Myanmar dijatuhi hukuman dua pekan penjara karena mencuri uang dari tas majikan yang sengaja dipasangi uang bertanda.
- Majikan merekam nomor seri 20 lembar uang S$50, lalu memasang kamera pengawas; tiga lembar uang hilang dan ditemukan di saku pekerja.
- Platform Helpling langsung memblokir pekerja tersebut dan bekerja sama dengan otoritas, menunjukkan ketatnya pengawasan terhadap pekerja rumahan.

Seorang pekerja kebersihan asal Myanmar harus berurusan dengan hukum setelah majikannya menjebaknya dengan uang bertanda nomor seri. Nant Aye Thandar Soe, 30 tahun, divonis dua pekan penjara di Singapura pada Senin (15/6) karena mencuri tiga lembar uang S$50 (sekitar Rp570 ribu per lembar) dari tas majikan yang sengaja dipasangi perangkap.
Kasus ini bermula ketika seorang perempuan Singapura berusia 35 tahun mulai mencurigai pekerja kebersihan yang membersihkan apartemennya setiap Kamis. Pada 27 Mei, ia menyadari sejumlah uang hilang dari tasnya. Keesokan harinya, ia memasang kamera pengawas di dalam flat dan menyiapkan 20 lembar uang S$50 di dalam tas—setelah mencatat nomor seri setiap lembar—lalu meletakkan tas di sudut kamar.
Sekitar pukul 18.30, Nant tiba dan mulai bekerja. Empat puluh menit kemudian, kamera merekamnya membuka ritsleting tas, mengambil dompet, dan menyelipkan tiga lembar uang ke sakunya. Pada pukul 20.00, majikan memeriksa tas dan menemukan tiga lembar uang hilang. Saat dihadapkan, Nant mengeluarkan empat lembar uang S$50 dari sakunya. Tiga di antaranya cocok dengan nomor seri yang dicatat; satu lembar lainnya adalah uang milik Nant sendiri.
Helpling, platform pemesanan jasa kebersihan yang digunakan majikan, menyatakan pihaknya mengetahui kasus ini dan langsung mengambil tindakan. “Keselamatan dan keamanan pelanggan adalah prioritas utama. Kami tidak mentolerir pelanggaran kepercayaan,” ujar perwakilan Helpling. Pekerja tersebut telah dihapus secara permanen dari platform, dan agen mitra yang merekrutnya juga telah memecatnya. Helpling menegaskan akan terus bekerja sama dengan otoritas.
Kasus ini menyoroti kerentanan dalam industri jasa kebersihan rumahan, terutama ketika pekerja tidak dipekerjakan langsung oleh platform melainkan melalui subkontraktor. Di Indonesia, praktik serupa juga marak terjadi di layanan kebersihan online. Banyak pengguna jasa mengeluhkan barang hilang, namun sering kali sulit mendapatkan ganti rugi karena rantai tanggung jawab yang panjang. Kasus di Singapura ini bisa menjadi pelajaran bagi konsumen Indonesia untuk lebih waspada, misalnya dengan menyimpan barang berharga di tempat terkunci atau menggunakan jasa yang memiliki prosedur verifikasi ketat.
Menurut analis keamanan rumah tangga, penggunaan kamera pengawas dan pencatatan nomor seri uang adalah langkah cerdas namun tidak selalu praktis. “Lebih baik mencegah dengan menyimpan uang di brankas atau tidak meninggalkan barang berharga saat pekerja datang,” kata seorang pakar. Namun, ia mengakui bahwa kepercayaan adalah fondasi utama dalam hubungan majikan-pekerja rumahan.
Ke depan, kasus ini bisa mendorong platform seperti Helpling untuk memperketat proses rekrutmen dan pengawasan, termasuk mewajibkan asuransi bagi pengguna. Pertanyaannya, apakah langkah-langkah ini cukup untuk mengembalikan kepercayaan konsumen yang sempat terusik?



