Brittany Snow Rayakan 17 Tahun Pulih dari Gangguan Makan, Serukan Harapan bagi Penyintas
Baca dalam 60 detik
- Aktris Brittany Snow menandai 17 tahun pemulihan dari anoreksia dan bulimia olahraga melalui unggahan Instagram pada 17 September.
- Ia menegaskan bahwa pemulihan memungkinkan kehidupan yang utuh dan mendorong orang lain yang mengalami hal serupa untuk tidak merasa sendiri.
- Kisah Snow menyoroti pentingnya dukungan sosial dan akses layanan kesehatan mental, termasuk di Indonesia yang masih menghadapi stigma.

Aktris Hollywood Brittany Snow merayakan tonggak 17 tahun pemulihannya dari gangguan makan yang pernah mengancam hidupnya. Pada 17 September, perempuan 40 tahun itu mengunggah pesan reflektif di Instagram, menyebut momen tersebut sebagai "ulang tahun emas"โsebuah penanda bahwa perjalanan panjangnya melawan anoreksia dan bulimia olahraga telah membuahkan hasil.
Snow, yang dikenal lewat peran di film Pitch Perfect dan serial Hunting Wives, mengungkapkan bahwa 17 tahun lalu ia berada di titik terendah dan tidak yakin bisa bertahan. "Saya tidak bisa melihat masa depan, apalagi membayangkan hidup di mana saya belajar bersikap baik pada diri sendiri," tulisnya. Ia mengaku bahwa keputusan untuk berhenti menyakiti diri sendiri adalah taruhan terbesar yang pernah ia ambil.
Dalam unggahan tersebut, Snow juga menyebut filmnya, Parachute, yang diangkat dari pengalaman pribadinya tentang hari ketika ia memutuskan untuk pulih. Film itu menjadi cermin bahwa pemulihan bukan sekadar berhenti dari perilaku destruktif, melainkan membangun kembali kepercayaan diri dan harga diri yang sempat hilang.
Snow secara terbuka membagikan pengalamannya menjalani perawatan untuk gangguan makan, depresi, dan self-harm. Dalam wawancara dengan majalah Self pada November 2025, ia mengungkapkan bahwa ia pernah merasa sangat membenci tubuhnya dan hanya melihat kekurangan pada dirinya. "Saya hanya melihat hal-hal yang salah dari diri saya," ujarnya saat itu.
"Begitu banyak orang telah berdiri di posisi Anda sekarang. Ada kehidupan di luar tempat Anda berada hari ini, bahkan jika Anda belum bisa membayangkannya." โ Brittany Snow
Pesan Snow bahwa "Anda tidak sendiri" bergema di tengah meningkatnya kesadaran global tentang kesehatan mental. Ia menandai sejumlah organisasi nirlaba, seperti National Alliance for Eating Disorders, September Letters, Bring Change to Mind, Make Sure Your Friends Are Okay, dan The Mental Health Coalition, sebagai bentuk dukungan bagi mereka yang membutuhkan bantuan.
Kisah Snow juga relevan bagi Indonesia, di mana gangguan makan dan masalah kesehatan mental masih sering dipandang sebelah mata. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional pada remaja mencapai 9,8%, sementara akses layanan konseling masih terbatas di banyak daerah. Stigma sosial sering membuat penderita enggan mencari pertolongan, sehingga cerita seperti Snow dapat menjadi pintu masuk untuk membuka dialog.
Di Indonesia, beberapa komunitas dan yayasan seperti Into The Light dan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) telah berupaya menyediakan ruang aman dan edukasi. Namun, tantangan utama tetap pada kurangnya tenaga profesional kesehatan jiwaโhanya sekitar 1.200 psikiater untuk lebih dari 270 juta penduduk. Keterbatasan ini membuat dukungan sebaya dan kampanye publik menjadi semakin krusial.
Ke depan, kisah pemulihan figur publik seperti Snow dapat mendorong lebih banyak orang untuk berbicara terbuka dan mencari bantuan. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap menyediakan ekosistem kesehatan mental yang inklusif, atau masih akan bergantung pada keberanian individu untuk bersuara?



