Liverpool dan Seni Berburu Pemain Murah: Dari Robertson ke Ngumoha
Baca dalam 60 detik
- Andy Robertson, yang dibeli hanya £8 juta dari Hull City pada 2017, menjelma menjadi salah satu bek kiri terbaik Premier League dengan 60 assist.
- Model rekrutmen hemat Liverpool kini dipertanyakan setelah era transfer £100 juta+ untuk pemain seperti Isak dan Wirtz.
- Rio Ngumoha, winger 18 tahun yang direkrut dari Chelsea seharga £3 juta, nilainya melonjak 766% menjadi €30 juta dan berpotensi mengikuti jejak Robertson.

Liverpool membuktikan bahwa di tengah inflasi harga pemain yang meledak, masih ada celah untuk mendapatkan pemain kelas dunia dengan harga murah. Andy Robertson, yang didatangkan dari Hull City pada 2017 dengan mahar hanya £8 juta, kini diakui sebagai salah satu bek kiri terbaik yang pernah menghiasi Premier League. Kesuksesan itu menjadi rujukan bagaimana The Reds bisa menuai emas dari pembelian yang dianggap remeh.
Robertson bukanlah pembelian instan. Ia butuh waktu untuk menembus starting XI asuhan Jürgen Klopp, bahkan mengaku "sengsara" di bulan-bulan awal karena minim menit bermain. Baru setelah Alberto Moreno cedera pada akhir 2017, peluang itu datang. Robertson memanfaatkannya dengan gemilang: 22 penampilan liga di musim 2017/18, lima assist, dan kepercayaan tampil di final Liga Champions melawan Real Madrid. Dari pemain yang dilepas Celtic saat muda dan sempat memperkuat Queen's Park, ia menjelma menjadi salah satu bek kiri paling produktif dengan 60 assist di liga.
Kepindahan Robertson dari Anfield—yang berakhir dengan status bebas transfer—berlangsung tanpa drama dan justru menuai simpati. Kontras dengan kepergian Trent Alexander-Arnold yang penuh kontroversi, Robertson pergi dengan kepala tegak. Kembalinya ia ke Anfield pekan ini dalam laga Carabao Cup melawan Tottenham Hotspur disambut standing ovation dan nyanyian khas dari tribun. Momen itu menjadi pengingat bahwa loyalitas dan kontribusi sembilan tahun tidak layak dibalas dengan cemoohan.
Di balik gemerlap transfer mahal seperti Isak, Wirtz, dan Bradley Barcola, kisah Robertson menawarkan narasi tandingan: pembelian murah bisa memberi keuntungan berlipat, baik di lapangan maupun finansial. Namun, sejak kedatangan Robertson, Liverpool jarang menemukan permata serupa. Caoimhin Kelleher dan Takumi Minamino sempat dianggap potensial, tetapi keduanya tidak pernah benar-benar menjadi pilar utama dan akhirnya dijual ke Brentford dan Monaco.
Kini, perhatian beralih ke Rio Ngumoha. Winger 18 tahun yang didatangkan dari Chelsea pada 2024 dengan biaya awal di bawah £3 juta itu disebut-sebut sebagai kandidat penerus Robertson. Chelsea dikabarkan menyesal melepasnya, dan penyesalan itu beralasan. Ngumoha telah menunjukkan kilatan kualitas, termasuk gol kemenangan di masa injury time melawan Newcastle United di St James' Park pada Agustus 2025. Pelatih Andoni Iraola, yang dikenal piawai mengasah talenta muda seperti Rayan dan Junior Kroupi di Bournemouth, dipercaya bisa mengubah Ngumoha menjadi pemain kelas dunia.
Nilai pasar Ngumoha pun melesat. Transfermarkt mencatat harga jualnya kini mencapai €30 juta, atau sekitar £26 juta—kenaikan 766% dari investasi awal. Liverpool tidak berencana menjualnya dalam waktu dekat, tetapi potensi keuntungan jangka panjangnya sangat besar. Jika terus berkembang, Ngumoha bisa menjadi tulang punggung The Reds selama satu dekade ke depan, persis seperti yang dilakukan Robertson.
Bagi penggemar di Indonesia, kisah ini relevan dengan strategi pembinaan usia muda di Tanah Air. Klub-klub Liga 1 kerap terjebak belanja pemain mahal tanpa perencanaan, padahal pemain muda lokal berbakat bisa menjadi aset jangka panjang. Liverpool menunjukkan bahwa kombinasi analisis data, kesabaran, dan keberanian memberi kesempatan pada pemain muda dapat menghasilkan keuntungan ganda: prestasi dan finansial. Pertanyaannya, akankah klub-klub Indonesia mulai meniru pendekatan ini, atau tetap terjebak dalam siklus belanja boros tanpa hasil?



