Arsenal Sesali Melepas Malen £200 Ribu: Kini Jadi Striker Tajam, Gyokeres Justru Mandek
Baca dalam 60 detik
- Arsenal menghadapi dilema lini depan setelah Viktor Gyokeres minim menit bermain, sementara mantan pemain akademi Donyell Malen bersinar di Serie A bersama Roma.
- Malen dijual ke PSV Eindhoven dengan harga sekitar £200 ribu pada 2017, kini nilainya melesat menjadi £38 juta menurut Transfermarkt.
- Ketajaman Malen bersama Roma menyoroti kegagalan Arsenal mengelola talenta muda, sekaligus mempertanyakan strategi rekrutmen striker di era Mikel Arteta.

Arsenal tengah menghadapi persoalan klasik di lini depan: striker mahal Viktor Gyokeres justru tersingkir dari starting XI, sementara mantan pemain akademi mereka, Donyell Malen, menjelma menjadi salah satu penyerang paling produktif di Serie A bersama AS Roma. Situasi ini memunculkan pertanyaan keras tentang kebijakan transfer dan pengelolaan talenta di Hale End.
Gyokeres, yang didatangkan dengan biaya hingga £63 juta pada musim panas 2025, baru mencatat 12 menit bermain di Premier League musim ini. Mikel Arteta lebih memilih Kai Havertz sebagai ujung tombak, bahkan sejak Community Shield. Keputusan ini diambil meski Gyokeres sempat menjadi top skor Arsenal dengan 21 gol di semua kompetisi pada 2025/26, namun kontribusi permainannya dinilai belum sesuai ekspektasi.
Di sisi lain, Malen yang meninggalkan Arsenal pada 2017 dengan harga hanya £200 ribu ke PSV Eindhoven, kini bernilai £38 juta. Pemain berusia 27 tahun itu mencetak 14 gol dalam 18 penampilan selama masa pinjaman di Roma (Januari–Mei 2026), lalu melanjutkan ketajamannya dengan enam gol dalam empat laga Serie A musim ini. Transfermarkt mencatat kenaikan nilai pasar Malen mencapai 18.900% sejak dijual.
Kegagalan Arsenal mengembangkan striker elit dari akademi bukan hal baru. Chuba Akpom, Folarin Balogun, dan Malen adalah deretan nama yang bersinar setelah hengkang. Akpom mencetak 33 gol untuk U23 Arsenal tetapi tidak pernah mencetak gol di tim senior. Balogun hanya dua kali mencetak gol dalam 10 penampilan sebelum pindah. Sementara Malen, yang mencetak 11 gol untuk U18 dan tujuh gol untuk U23, tidak pernah tampil di tim utama sebelum dijual.
"Perbedaan antara sepak bola muda dan senior sangat besar. Malen butuh waktu, tetapi Arsenal tampaknya tidak sabar menunggu," ujar seorang pengamat sepak bola Inggris yang enggan disebut namanya.
Bagi Arsenal, keputusan melepas Malen terasa semakin pahit karena Gyokeres kesulitan beradaptasi dengan gaya bermain tim. Dalam laga melawan Ipswich Town, Gyokeres hanya menyentuh bola dua kali di kotak penalti lawan, sama seperti pemain pengganti Christos Tzolis. Sebelumnya melawan Napoli, ia tidak melepaskan satu pun tembakan dari 26 percobaan Arsenal. Statistik ini menegaskan bahwa Gyokeres belum cocok dengan skema Arteta yang mengandalkan mobilitas dan pressing tinggi.
Konteks Indonesia: Fenomena ini menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub Liga 1 yang kerap terburu-buru melepas pemain muda. Persija, Persib, dan Bali United misalnya, memiliki akademi yang menjanjikan, tetapi sering kali lebih memilih merekrut striker asing instan ketimbang memberi ruang bagi talenta lokal. Arsenal menjadi contoh bagaimana keputusan jual cepat bisa berdampak jangka panjang, terutama ketika kebutuhan tim akan penyerang tajam tidak terpenuhi.
Ke depan, Arsenal harus memutuskan apakah akan terus memberi kesempatan kepada Gyokeres atau mencari opsi lain di bursa transfer. Sementara Malen, yang kini menjadi incaran banyak klub besar, akan menjadi pengingat bahwa kesabaran dalam mengembangkan pemain muda sering kali berbuah manis. Akankah Arsenal kembali menyesali keputusan serupa di masa depan?



