Batu Apung Titan Ridge Mengancam Ketahanan Pangan di Papua Nugini
Baca dalam 60 detik
- Letusan bawah laut Titan Ridge sejak Mei menghasilkan batu apung yang membentuk lapisan setebal 2โ5 meter di perairan Manus, menghambat akses perahu ke tempat pemancingan dan layanan dasar.
- Pengalaman dari letusan Fukutoku-Oka-no-Ba (2021) di Jepang menunjukkan batu apung dapat bertahan bertahun-tahun, dengan biaya pembersihan mencapai miliaran yen namun hanya efektif sementara.
- Dampak ekologis meliputi kematian ikan budidaya akibat menelan batu apung dan penurunan penetrasi cahaya ke terumbu karang, mengancam ekosistem laut yang menjadi sumber pangan utama warga.

Lapisan batu apung setebal 2โ5 meter menyelimuti pesisir Provinsi Manus, Papua Nugini, sejak letusan bawah laut Titan Ridge pada 9 Mei lalu. Material vulkanik ringan ini tidak hanya mengubah wajah perairan menjadi daratan darurat, tetapi juga memutus akses transportasi laut yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat.
Menteri Penanggulangan Bencana Papua Nugini, Billy Joseph, menyatakan kekhawatiran serius terhadap ketahanan pangan dan distribusi logistik di wilayah tersebut. Bagi warga Manus, perahu kecil bukan sekadar alat transportasi, melainkan jalur menuju pasar, sekolah, fasilitas kesehatan, dan area penangkapan ikan. Ketika jalur itu tertutup, dampaknya langsung terasa pada ketersediaan pangan dan pendapatan harian.
Fenomena batu apung raksasa ini bukanlah yang pertama. Pada 2021, letusan bawah laut Fukutoku-Oka-no-Ba di Jepang menghasilkan batu apung yang menyumbat 71 pelabuhan dan marina di Okinawa, merusak ratusan mesin kapal, serta mengganggu sektor perikanan dan pariwisata. Biaya pembersihan di Prefektur Okinawa saja mencapai 515 juta yen, ditambah 1 miliar yen untuk mengangkut 110.000 meter kubik batu apung dari pelabuhan dan pantai. Namun, upaya itu hanya memberikan kelegaan sementara; sebagian besar batu apung baru tersapu arus musim semi tahun berikutnya.
Perbedaan mendasar antara Jepang dan Papua Nugini terletak pada infrastruktur dan sumber daya. Jepang memiliki jaringan transportasi darat yang mumpuni, rantai pasok alternatif, serta dana federal yang besar. Sebaliknya, Manus mengandalkan laut sebagai satu-satunya tulang punggung perekonomian. Di beberapa desa, warga mulai membersihkan batu apung secara manual untuk membuka kembali akses ke area penangkapan ikan, sebuah upaya heroik namun tidak sebanding dengan skala masalah.
Penelitian menunjukkan bahwa batu apung tidak cepat tenggelam seperti dugaan umum. Sebaliknya, material ini dapat mengapung selama bertahun-tahun, terbawa arus dan angin melintasi samudra. Setelah letusan Havre di utara Selandia Baru pada 2012, batu apung ditemukan di Queensland delapan bulan kemudian dan bahkan di Tasmania lebih dari setahun setelahnya. Artinya, meskipun letusan Titan Ridge berhenti, batu apung yang sudah ada akan terus mengapung dan bergerak di kawasan Pasifik dalam waktu yang lama.
Dampak ekologis juga mengkhawatirkan. Di Jepang, ilmuwan menemukan ikan budidaya mati dengan perut penuh batu apung, menandakan bahwa beberapa spesies mengira batu apung sebagai makanan. Batu apung juga melintasi terumbu karang, mengurangi intensitas cahaya dan secara fisik menabrak koloni karang dangkal. Sementara itu, letusan Hunga Tonga-Hunga Ha'apai (2022) menunjukkan partikel vulkanik di laut dapat menurunkan penetrasi cahaya, mengancam ekosistem yang bergantung pada fotosintesis.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan kerentanan negara kepulauan terhadap bencana vulkanik bawah laut. Dengan ribuan pulau dan ketergantungan tinggi pada laut, dampak serupa bisa terjadi jika letusan bawah laut muncul di perairan Indonesia. Belum ada sistem peringatan dini atau rencana kontinjensi yang memadai untuk menghadapi ancaman batu apung skala besar. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap jika suatu hari batu apung menyumbat pelabuhan-pelabuhan utama dan mengancam jalur distribusi pangan?



