Buendia dan Bayang-Bayang Diaby: £55 Juta Aston Villa yang Tak Kunjung Berbuah
Baca dalam 60 detik
- Aston Villa telah menggelontorkan total £55 juta untuk Emiliano Buendia, namun kontribusi gol dan assist-nya jauh dari ekspektasi.
- Kegagalan Buendia mengulang pola Moussa Diaby: mahal, minim dribel sukses, dan kalah dalam duel fisik.
- Manajemen Villa dituntut segera melepas pemain agar tidak menjadi beban finansial di tengah aturan PSR.

Emiliano Buendia resmi menyandang status sebagai salah satu pembelian paling mengecewakan di era Premier League modern setelah total pengeluaran Aston Villa untuknya mencapai £55 juta, sebuah angka yang jauh dari kata sepadan dengan kontribusinya di lapangan.
Gelandang serang asal Argentina itu didatangkan dari Norwich City pada musim panas 2021 dengan banderol £33 juta. Harapan besar disematkan kepadanya untuk menjadi motor serangan The Villans. Namun, setelah 160 penampilan, ia baru mencetak 12 gol—rata-rata satu gol setiap lima pertandingan. Musim ini pun ia hanya mencatatkan 0,5 dribel sukses per 90 menit dan 0,5 peluang tercipta per 90 menit, angka yang menempatkannya di bawah 80% pemain menyerang lainnya di liga.
Jika ditarik ke belakang, kegagalan Buendia bukan kasus tunggal. Moussa Diaby, yang dibeli dengan rekor klub £52 juta pada 2023, juga hanya bertahan setahun sebelum dijual ke Arab Saudi. Diaby tercatat hanya menyelesaikan 42% dribelnya, melepaskan 0,8 tembakan tepat sasaran per 90 menit, dan kalah dalam 68% duel darat. Pola yang sama terulang: mahal, tidak adaptif, lalu pergi.
Manajer Unai Emery sebenarnya masih memberikan kepercayaan dengan 61 penampilan sejak awal musim lalu. Akan tetapi, kepercayaan itu belum berbuah konsistensi. Di tengah kebutuhan Villa untuk mematuhi aturan Financial Fair Play dan Profitability and Sustainability Rules (PSR), keberadaan pemain dengan gaji tinggi namun output rendah menjadi beban ganda. Klub harus menjual aset agar tetap bisa berbelanja di bursa transfer.
Musim panas ini, Villa kembali mengeluarkan dana besar untuk Johan Manzambi dan Ibrahim Mbaye, masing-masing dengan harga di atas £40 juta. Kedatangan mereka otomatis mempersempit ruang bagi pemain lama seperti Buendia. Jika tidak segera ada perbaikan, kursi pemain 29 tahun itu akan semakin panas.
"Kegagalan Buendia dan Diaby menunjukkan bahwa rekrutmen berbasis statistik semata tidak cukup. Adaptasi taktik dan mentalitas liga jauh lebih menentukan," ujar seorang analis Premier League yang enggan disebut namanya.
Fenomena ini juga menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub Indonesia, terutama yang mulai berani mendatangkan pemain asing mahal. Liga 1 sering kali terjebak euforia transfer tanpa memperhitungkan kecocokan gaya bermain dan liga. Akibatnya, pemain mahal hanya menjadi penghuni bangku cadangan, sementara klub menanggung gaji besar. Villa adalah contoh nyata bagaimana kesalahan rekrutmen bisa menghambat ambisi jangka panjang.
Ke depan, manajemen Villa di bawah arahan Monchi dan Emery dituntut lebih selektif. Buendia masih memiliki sisa kontrak, tetapi jika performanya tidak kunjung membaik, opsi menjualnya di jendela transfer berikutnya menjadi semakin rasional. Pertanyaannya, akankah ada klub yang mau menampung gaji £22 juta yang sudah ia kantongi? Atau justru Villa harus merelakan kerugian besar demi melepas beban ini?



