Bunga Abadi yang Tak Layu: Tren Buket Rajut dan Kertas Kian Digemari
Baca dalam 60 detik
- Pengrajin lokal di Singapura menawarkan buket bunga handmade dari bahan rajut, kertas, dan pembersih pipa sebagai alternatif dekorasi tahan lama.
- Fenomena ini dipicu oleh instalasi Flower Market seniman CJ Hendry yang viral, mendorong minat pada bunga artifisial berkualitas tinggi.
- Harga buket berkisar S$80โS$250, dengan beberapa penyedia juga mengadakan lokakarya untuk membuat sendiri.

Buket bunga yang tak pernah layu kini menjadi primadona baru di Singapura, seiring merebaknya tren bunga artifisial buatan tangan yang terbuat dari benang rajut, kertas, dan pembersih pipa. Fenomena ini dipicu oleh pameran Flower Market instalasi seniman Australia CJ Hendry di Gardens by the Bay yang ramai dikunjungi, membuat banyak orang mencari alternatif bunga abadi yang bisa dinikmati kapan saja.
Berbeda dengan bunga plastik biasa, kreasi para pengrajin lokal ini menawarkan detail yang nyaris sempurna. Mulai dari bunga lili, mawar, hingga matahari, setiap kelopak dibuat dengan teknik merajut atau melipat kertas yang rumit. Beberapa pelaku usaha bahkan membuka kelas workshop bagi mereka yang ingin merangkai buket sendiri, menjadikan aktivitas ini sebagai terapi relaksasi di tengah hiruk-pikuk perkotaan.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah Ivy Wonder, toko di Bukit Batok yang mendapatkan pujian dari penyanyi Nathan Hartono. Dalam unggahan Instagram, Hartono menyebut toko itu memiliki koleksi bunga rajut paling detail dan indah yang pernah dilihatnya, termasuk bunga lili, mawar, dan matahari yang semuanya dibuat tangan. Pemilik toko, yang telah menekuni hobi merajut selama sepuluh tahun, baru membuka gerainya tahun lalu. Pelanggan bisa memilih bunga favorit lalu dibungkus seperti buket segar.
Tak kalah menarik, The Paper Bloom mengkhususkan diri pada bunga kertas yang tampak hidup. Mulai dari buket hydrangea hingga bunga matahari mini dalam botol, semua dibuat dari kertas dengan presisi tinggi. Perusahaan ini juga pernah membuat instalasi bunga raksasa untuk merek seperti Kenzo. Mereka menyediakan DIY kit bagi yang ingin belajar membuat bunga kertas sendiri.
Bagi pencinta barang unik, CrochetSG menawarkan buket rajutan dengan tambahan figur lucu seperti kapibara, lebah, atau babi bertopi wisuda. Meski tidak memiliki toko fisik di Toa Payoh Industrial Park, pengiriman gratis menjadi nilai tambah. Sementara itu, Flora Quill & Twist dari Sengkang menggunakan pembersih pipa dan gulungan kertas untuk membuat bunga lavender, matahari, dan tulip. Semua produk bersifat pesanan, sehingga pemesanan awal sangat disarankan.
Fenomena ini tak hanya terjadi di Singapura. Di Indonesia, tren bunga artifisial handmade juga mulai menjamur, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Para pengrajin lokal memanfaatkan platform media sosial untuk menjangkau konsumen yang menginginkan dekorasi tahan lama tanpa perawatan. Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp150 ribu hingga Rp1 juta, tergantung kerumitan dan bahan. Namun, tantangan terbesar adalah edukasi pasar tentang nilai seni di balik setiap buket, yang kerap dianggap sama dengan bunga plastik murah.
Menurut pengamat tren konsumen, meningkatnya minat pada barang handmade mencerminkan pergeseran preferensi menuju produk yang lebih personal dan berkelanjutan. "Bunga artifisial buatan tangan bukan sekadar dekorasi, tapi juga bentuk ekspresi diri dan dukungan terhadap ekonomi kreatif," ujar seorang analis. Ke depannya, kolaborasi antara pengrajin lokal dengan merek besar atau penyelenggara acara bisa menjadi langkah strategis untuk memperluas pasar.
Dengan semakin banyaknya pilihan dan kemudahan akses melalui lokakarya, tren bunga abadi ini diprediksi akan terus berkembang. Pertanyaannya, mampukah para pengrajin lokal Indonesia bersaing dengan kualitas dan inovasi dari luar negeri?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260274/original/030755500_1781584741-38744.jpg)


