Polisi Vietnam Bongkar Sindikat Pencuri Kucing, 400 Ekor Diselamatkan
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Vietnam menangkap sembilan tersangka yang mencuri dan mengumpulkan kucing untuk dijual sebagai daging, menyelamatkan lebih dari 400 ekor kucing hidup.
- Sindikat ini beroperasi selama tiga tahun di Vietnam selatan, dengan transaksi setiap dua hingga tiga hari, memanfaatkan celah regulasi perdagangan daging kucing.
- Kasus ini menyoroti praktik ilegal penangkapan hewan peliharaan yang marak di Vietnam, dengan estimasi satu juta kucing diperdagangkan setiap tahun.

Polisi Vietnam bersama kelompok kesejahteraan hewan berhasil menyelamatkan lebih dari 400 ekor kucing yang akan dijual sebagai daging, setelah membongkar sindikat pencurian kucing di selatan negara itu. Sembilan orang ditangkap dalam operasi yang digelar di Provinsi Tay Ninh dan Kota Ho Chi Minh, pekan lalu.
Dalam penggerebekan, petugas menemukan 400 kucing hidup dan sekitar 80 bangkai kucing yang disimpan dalam es. Selain itu, 21 kucing lainnya disita dari fasilitas terpisah. Menurut surat kabar resmi kepolisian Ho Chi Minh, kelompok ini digambarkan sebagai "grup kriminal spesialis pencurian dan pengumpulan kucing".
Konsumsi daging kucing dan anjing di Vietnam sebenarnya legal, namun penjual wajib memiliki izin yang menunjukkan asal-usul hewan. Celah inilah yang dimanfaatkan sindikat untuk memasok daging ilegal ke pasar. Polisi melacak kelompok ini sejak 11 Juni setelah menyelidiki maraknya pencurian hewan peliharaan di Ho Chi Minh City.
Para tersangka mengaku telah menjebak dan mengumpulkan kucing di seluruh Vietnam selatan selama tiga tahun terakhir. Mereka mengangkut kucing curian ke tempat penampungan sementara, lalu menjualnya ke pedagang dengan frekuensi transaksi setiap dua hingga tiga hari. Sekitar 40 kucing yang dicuri telah dikembalikan ke pemiliknya, menurut pernyataan Humane World for Animals, Selasa (18/6).
Organisasi tersebut memuji tindakan tegas aparat yang menyelamatkan banyak nyawa hewan, namun mencatat sejumlah kucing mati akibat tekanan yang dialami. Humane World for Animals juga menyediakan pakan dan perlengkapan bagi kucing yang masih ditahan sebagai barang bukti. Polisi mengimbau warga yang kehilangan hewan peliharaan untuk melapor guna membantu identifikasi.
Fenomena pencurian hewan untuk konsumsi daging bukan hanya masalah Vietnam. Di Indonesia, praktik serupa juga terjadi meski tidak seterbuka di Vietnam. Peredaran daging anjing dan kucing ilegal masih ditemukan di sejumlah daerah, seperti Manado dan Toraja, meskipun sudah ada penolakan dari berbagai kalangan. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya penegakan hukum dan edukasi publik tentang kesejahteraan hewan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Vietnam akan memperketat regulasi perdagangan daging kucing atau justru membiarkan praktik ini terus berlangsung di bawah tanah. Sementara itu, upaya penyelamatan hewan peliharaan dari sindikat pencurian masih terus berjalan.



