Putra Mahkota Inggris Pilih Eton: Tradisi atau Modernitas?
Baca dalam 60 detik
- Pangeran George, putra sulung William dan Kate, akan bersekolah di Eton College mulai September mendatang, melanjutkan jejak ayah dan pamannya.
- Keputusan ini mengejutkan karena sebelumnya beredar kabar bahwa keluarga kerajaan mempertimbangkan Marlborough College yang lebih modern dan koedukasi.
- Pilihan Eton menegaskan kembali nilai tradisi dalam keluarga kerajaan Inggris, namun juga memicu diskusi tentang pendidikan anak di kalangan elite.

Pangeran George, putra sulung Pangeran William dan Catherine, Princess of Wales, dipastikan akan menempuh pendidikan di Eton College mulai September tahun ini. Pengumuman resmi dari Kensington Palace pada Selasa (6/8) mengakhiri spekulasi panjang mengenai sekolah mana yang akan dipilih untuk anak pertama pasangan tersebut yang genap berusia 13 tahun pada bulan depan.
Eton College, sekolah asrama putra bergengsi di Windsor, memang bukan pilihan yang mengejutkan mengingat William dan adiknya, Pangeran Harry, adalah alumnus. Namun, keputusan ini tetap menarik karena sebelumnya beredar kuat kabar bahwa Catherine lebih condong pada Marlborough College di Wiltshire, sekolah koedukasi tempat ia sendiri pernah belajar. Sebuah sumber yang dekat dengan keluarga kerajaan bahkan menyebut pada Januari lalu bahwa Marlborough menjadi kandidat terdepan, dengan alasan keamanan dan keinginan memberikan pengalaman berbeda bagi George.
Biaya tahunan Eton mencapai sekitar £63.000 atau setara lebih dari Rp1,2 miliar. Sekolah ini menerapkan sistem asrama penuh, meski ada fleksibilitas bagi siswa untuk pulang pada akhir pekan. George akan tinggal di Manor House, tempat yang sama dengan yang pernah ditempati William dan Harry. Seperti kakak beradik itu, kamar khusus untuk petugas keamanan pribadi George juga telah disiapkan.
Pilihan Eton menandai kembalinya tradisi pendidikan kerajaan yang sempat terputus. William sendiri merupakan anggota keluarga kerajaan pertama yang bersekolah di Eton, mematahkan tradisi Gordonstoun yang diikuti ayahnya, Raja Charles III, serta kakeknya, Pangeran Philip. Dalam sebuah dokumenter, William pernah mengenang masa-masa di Eton, termasuk kunjungan ke Windsor Castle untuk minum teh bersama neneknya, Ratu Elizabeth II. "Dia menyediakan teh terbaik. Saya sering datang untuk mengobrol dan melihat keadaannya," kenangnya.
Di sisi lain, Pangeran Harry dalam memoarnya Spare menggambarkan Eton sebagai "sekolah terbaik di dunia" sekaligus "kejutan yang mendalam". Ia menambahkan, "Itu bisa menjadi api penyucian bagi seorang anak yang tidak terlalu cemerlang." Pernyataan ini mencerminkan tekanan yang mungkin dirasakan siswa di lingkungan elite semacam itu.
Keputusan William dan Catherine untuk memilih Eton juga menunjukkan pendekatan mereka yang hati-hati namun tetap mempertimbangkan tradisi. Sebelumnya, pasangan ini mengejutkan banyak pihak dengan memilih Thomas's Battersea untuk George, bukan sekolah kerajaan yang lebih konvensional. Seorang teman dekat Catherine mengatakan kepada Daily Mail, "Mereka sangat ingin membiarkan George mengembangkan sayapnya sebagai anak-anak dan tidak akan pernah melakukan apa yang orang harapkan."
Bagi publik Indonesia, pilihan sekolah anak kerajaan ini mungkin tampak jauh dari realitas sehari-hari. Namun, fenomena ini mencerminkan bagaimana keluarga elite di berbagai negara—termasuk Indonesia—sering dihadapkan pada dilema antara mempertahankan tradisi dan mengadopsi pendekatan modern dalam pendidikan anak. Di Indonesia, misalnya, sekolah-sekolah internasional dan program pendidikan global semakin diminati oleh kalangan atas, sementara sekolah nasional plus tetap menjadi pilihan bagi yang mengutamakan nilai-nilai lokal.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada bagaimana George beradaptasi dengan lingkungan barunya. Apakah ia akan mengikuti jejak ayahnya yang menikmati masa-masa di Eton, atau justru merasakan tekanan seperti yang diungkapkan pamannya? Yang jelas, pilihan ini kembali mengukuhkan Eton sebagai simbol status dan tradisi dalam keluarga kerajaan Inggris, meski di tengah tuntutan zaman yang semakin modern.