Diet Bebas Gula Ternyata Bisa Ganggu Kesehatan Usus: Temuan Studi pada Tikus
Baca dalam 60 detik
- Studi pada tikus menunjukkan diet rendah lemak tanpa gula justru memicu gangguan toleransi glukosa dan perubahan mikrobioma usus.
- Tikus yang tidak mengonsumsi gula mengalami penurunan bakteri baik dan peningkatan penanda peradangan usus serta perlemakan hati.
- Para ahli mengingatkan bahwa menghilangkan satu jenis nutrisi secara ekstrem belum tentu sehat; pola makan seimbang tetap kunci.

Penelitian terbaru pada tikus mengungkapkan bahwa menghilangkan gula pasir (sukrosa) dari diet rendah lemak justru dapat merusak metabolisme dan keseimbangan bakteri usus, sebuah temuan yang mengejutkan di tengah tren diet bebas gula yang kian populer.
Dalam studi yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan Endocrine Society (ENDO 2026) dan belum melalui proses peer review, para peneliti membagi 12 tikus sehat menjadi dua kelompok. Satu kelompok mendapat diet rendah lemak yang mengandung gula, sementara kelompok lainnya menjalani diet rendah lemak tanpa gula sama sekali. Kedua kelompok menerima jumlah kalori yang setara untuk menghilangkan faktor jumlah makanan.
Setelah 16 minggu, meskipun berat badan dan asupan kalori kedua kelompok tidak berbeda, tikus yang tidak mengonsumsi gula menunjukkan tanda-tanda penurunan kesehatan metabolik yang signifikan. Mereka mengalami gangguan toleransi glukosa dan penurunan sensitivitas insulin—dua faktor yang terkait erat dengan risiko diabetes tipe 2. Selain itu, kadar insulin puasa mereka lebih rendah, dan terjadi perubahan pada hormon yang mengatur metabolisme serta nafsu makan.
Temuan yang paling mencolok adalah perubahan drastis pada mikrobioma usus. Tikus bebas gula memiliki jumlah bakteri baik yang jauh lebih rendah, termasuk Lactobacillus murinus, yang berperan penting dalam menjaga kesehatan usus dan mengendalikan peradangan. Sebaliknya, populasi bakteri yang terkait dengan kondisi inflamasi justru meningkat, disertai tanda-tanda peradangan di usus besar. Tidak hanya itu, tikus-tikus ini juga menunjukkan gejala awal perlemakan hati dan peradangan hati.
Mir Ali, MD, seorang dokter bedah bariatrik dari MemorialCare Surgical Weight Loss Center, mengaku terkejut dengan hasil ini. "Saya terkejut karena mengurangi karbohidrat dan gula adalah andalan banyak strategi penurunan berat badan yang sukses," ujarnya. Namun, ia menekankan bahwa penelitian sebelumnya secara konsisten mendukung manfaat pengurangan gula tambahan, dan hasil studi ini jangan ditafsirkan berlebihan. "Secara keseluruhan, manfaat positif masih lebih besar daripada kemungkinan efek negatifnya," kata Ali.
Senada dengan Ali, Nneoma Oparaji, MD, seorang dokter spesialis lifestyle medicine dari Houston, menilai studi ini menarik karena menantang anggapan sederhana bahwa menghilangkan gula otomatis bermanfaat. "Nutrisi jauh lebih kompleks dan bernuansa daripada sekadar menghilangkan satu bahan," jelasnya. Oparaji menyoroti perubahan mikrobioma usus sebagai temuan penting, karena bakteri usus berperan dalam mengatur metabolisme glukosa, sensitivitas insulin, dan peradangan.
Bagi masyarakat Indonesia yang gemar mengikuti tren diet bebas gula atau diet karbo, temuan ini menjadi pengingat bahwa pendekatan nutrisi yang ekstrem belum tentu membawa hasil optimal. Di Indonesia, konsumsi gula tambahan memang perlu dikurangi mengingat tingginya angka obesitas dan diabetes, tetapi menghilangkannya sepenuhnya tanpa mempertimbangkan keseimbangan nutrisi lain dapat berdampak sebaliknya. Pola makan tradisional Indonesia yang kaya serat, sayuran, dan protein hewani/nabati bisa menjadi acuan yang lebih sehat daripada sekadar memotong satu jenis makanan.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah temuan pada tikus ini akan terkonfirmasi pada manusia? Para peneliti dan ahli sepakat bahwa diperlukan studi lebih lanjut pada subjek manusia sebelum menarik kesimpulan definitif. Namun, satu hal yang jelas: "Pesan utamanya adalah jangan terpaku pada satu nutrisi atau satu studi. Makan sehat adalah tentang pola diet secara keseluruhan, bukan satu bahan tunggal," tegas Oparaji.



