Harga Minyak Mentah Anjlok 6% Setelah Ketegangan AS-Iran Mereda
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah Brent dan WTI turun lebih dari 6% dalam sepekan setelah sinyal de-eskalasi konflik di Timur Tengah.
- Volatilitas pasar dipicu oleh perubahan sentimen dari eskalasi militer hingga isyarat negosiasi damai antara AS dan Iran.
- Penurunan harga berpotensi meredakan tekanan biaya energi bagi negara pengimpor seperti Indonesia, namun risiko gangguan pasokan masih ada.

Harga minyak mentah dunia mencatat penurunan mingguan terbesar dalam beberapa bulan terakhir setelah ketegangan antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel menunjukkan tanda-tanda mereda. Brent, acuan internasional, ditutup di level 87,34 dolar AS per barel pada Jumat (waktu setempat), turun 6,2 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) merosot 6,4 persen ke posisi 84,72 dolar AS per barel.
Pergerakan harga sepanjang pekan ini sangat fluktuatif. Pada awal pekan, harga sempat melonjak sekitar 5 persen setelah eskalasi serangan militer di Timur Tengah memicu kekhawatiran gangguan pasokan. Namun, sentimen berbalik tajam pada Selasa setelah Iran dan Israel mengumumkan penghentian serangan, ditambah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengisyaratkan kemajuan negosiasi dengan Teheran. Brent langsung jatuh di bawah 90 dolar AS, dan WTI merosot ke bawah 87 dolar AS.
Memasuki pertengahan pekan, pasar kembali dihadapkan pada ketidakpastian. Serangan AS yang baru terhadap Iran membuat harga bergerak mixed, namun kekhawatiran kembali meningkat pada Kamis setelah baku tembak antara kedua negara memanas dan ancaman terhadap Selat Hormuz kembali mengemuka. Data inventaris AS yang lebih ketat turut mendorong kenaikan harga. Akan tetapi, penguatan itu tak bertahan lama setelah Trump pada Jumat membatalkan rencana serangan dan menyebut kesepakatan damai permanen dengan Iran bisa ditandatangani dalam hitungan hari.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak mentah memiliki dampak langsung terhadap anggaran subsidi energi dan defisit neraca perdagangan. Penurunan harga saat ini memberikan ruang fiskal yang lebih longgar, terutama karena Indonesia masih menjadi importir minyak bersih. Namun, volatilitas yang tinggi tetap menjadi risiko, mengingat ketegangan geopolitik dapat kembali memicu lonjakan harga sewaktu-waktu. Analis memperkirakan bahwa jika gencatan senjata benar-benar terwujud, harga minyak berpotensi turun lebih lanjut ke kisaran 80 dolar AS per barel.
Keputusan OPEC+ untuk meningkatkan pasokan juga menjadi faktor yang membatasi kenaikan harga. Aliansi produsen minyak tersebut telah menambah kuota produksi secara bertahap, yang membantu menyeimbangkan pasar di tengah ketidakpastian permintaan global. Namun, jika konflik di Timur Tengah kembali memanas, risiko gangguan pasokan dari kawasan yang memasok sekitar sepertiga minyak dunia itu bisa kembali mendorong harga naik.
Ke depan, pasar akan mencermati perkembangan negosiasi antara AS dan Iran serta implementasi kesepakatan damai. Jika kesepakatan tercapai, sanksi terhadap Iran mungkin dicabut, yang akan menambah pasokan minyak global dan menekan harga lebih lanjut. Sebaliknya, kegagalan negosiasi dapat memicu kembali ketegangan dan volatilitas harga. Pertanyaan besarnya adalah: akankah stabilitas harga bertahan di tengah dinamika geopolitik yang masih rapuh?



