Danantara Raup US$1,5 Miliar dari Obligasi Perdana, Isyarat Kepercayaan Investor di Tengah Tekanan Pasar
Baca dalam 60 detik
- Dana abadi negara Danantara berhasil mengumpulkan US$1,5 miliar dari obligasi internasional perdana, melampaui target awal US$1 miliar karena kelebihan permintaan hingga 4,6 kali lipat.
- Kesuksesan ini menjadi sinyal positif di tengah gejolak pasar saham dan pelemahan rupiah, meskipun kebijakan fiskal pemerintah menuai protes mahasiswa dan kekhawatiran investor asing.
- Pemerintah berkomitmen melanjutkan deregulasi dan hilirisasi untuk memulihkan kepercayaan, namun analis mengingatkan perlunya koreksi fiskal kredibel dan pengurangan kejutan kebijakan.

Di tengah gejolak pasar keuangan dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, Dana Abadi Indonesia (Danantara) justru mencatatkan sukses gemilang dalam penerbitan obligasi internasional perdananya. Lembaga yang baru dibentuk di bawah pemerintahan Prabowo Subianto itu berhasil mengantongi US$1,5 miliar, melampaui target awal US$1 miliar, setelah permintaan investor membengkak hingga US$4,6 miliar selama proses book-building.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa tingginya minat investor membuat pihaknya menambah jumlah penerbitan. "Awalnya kami hanya menargetkan US$1 miliar, tapi order mencapai US$4,6 miliar. Kami putuskan menaikkan menjadi US$1,5 miliar, dibagi sama rata untuk tenor lima dan sepuluh tahun," ujarnya dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Senin (15/6). Obligasi lima tahun bertenor 5,35 persen, sedangkan sepuluh tahun di level 5,95 persen—lebih rendah 35 basis poin dari panduan awal berkat permintaan yang kuat.
Keberhasilan ini menjadi angin segar di saat pasar saham Indonesia terpuruk ke level terendah dalam lima tahun dan rupiah menyentuh rekor terendah pekan lalu. Pemerintah bahkan harus melakukan intervensi darurat melalui kenaikan suku bunga acuan di luar jadwal dan meningkatkan imbal hasil aset untuk menarik arus modal. Tak hanya itu, kebijakan fiskal yang ketat—termasuk pembentukan badan baru Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) yang mengatur ekspor komoditas utama—memicu protes mahasiswa dan kekhawatiran investor asing, termasuk keluhan dari kelompok bisnis China.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pemerintah akan terus memperkuat fundamental ekonomi dan iklim investasi. "Presiden Prabowo menekankan pentingnya deregulasi untuk menyederhanakan perizinan, mempercepat hilirisasi dan industrialisasi," katanya. Langkah ini, menurut Prasetyo, diharapkan mampu memulihkan kepercayaan publik dan pelaku usaha di tengah gejolak ekonomi.
Menurut Rosan, hasil ini membungkam skeptisisme yang sempat muncul. "Banyak yang meramalkan obligasi kami tidak akan laku atau harus menawarkan bunga sangat tinggi. Nyatanya tidak terjadi. Ini bukti kredibilitas Danantara dan pemerintah tetap kuat, terutama ketika kami berkomunikasi secara terbuka dan transparan dengan investor," tegasnya. Investor Amerika Serikat menjadi pembeli terbesar, masing-masing 38 persen untuk tenor lima tahun dan 52 persen untuk tenor sepuluh tahun.
Namun, analis mengingatkan bahwa kesuksesan ini belum cukup untuk menjamin stabilitas jangka panjang. Langkah-langkah darurat yang diambil pemerintah—seperti kenaikan suku bunga dan peningkatan imbal hasil—hanya meredam gejolak sementara. Untuk memulihkan kredibilitas secara berkelanjutan, pemerintah perlu menunjukkan koreksi fiskal yang kredibel, mengurangi kejutan kebijakan, dan menghindari pernyataan yang terkesan memusuhi investor asing. Prasetyo sendiri mengakui bahwa penguatan rupiah terkait erat dengan kinerja ekspor-impor yang bergantung pada keberhasilan hilirisasi dan industrialisasi.
Ke depan, pemerintah dihadapkan pada tantangan untuk menjaga momentum kepercayaan investor sambil tetap menjalankan agenda populis dan nasionalis. Apakah keberhasilan Danantara ini akan menjadi titik balik bagi perekonomian Indonesia, atau hanya sekadar kilasan di tengah badai? Jawabannya bergantung pada konsistensi kebijakan dan kemampuan pemerintah mengelola ekspektasi pasar.



