Ekspansi Mal ke Luar Jawa: Strategi Bertahan di Tengah Tekanan Daya Beli
Baca dalam 60 detik
- Kunjungan ke pusat perbelanjaan tetap stabil meski daya beli kelas menengah bawah melemah dan pola konsumsi bergeser ke barang murah.
- Biaya operasional mal melonjak lebih dari 30% akibat pelemahan rupiah dan kenaikan harga BBM yang mendorong ongkos logistik.
- Pengembang pusat belanja kini memfokuskan ekspansi di luar Pulau Jawa untuk menjangkau segmen pasar menengah bawah yang masih potensial.

Di tengah tekanan ekonomi global yang tak kunjung reda, bisnis pusat perbelanjaan di Indonesia justru menunjukkan resistensi yang tak terduga. Alih-alih ambruk, para pengelola mal justru mengubah haluan strategi dengan memindahkan fokus ekspansi ke luar Pulau Jawa. Langkah ini menjadi jawaban atas pelemahan daya beli kelas menengah bawah yang kian terasa, sekaligus respons terhadap lonjakan biaya operasional yang menekan margin.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, mengungkapkan bahwa tingkat kunjungan masyarakat ke mal masih relatif stabil meskipun terjadi perubahan pola belanja. Konsumen kini cenderung memburu produk dengan harga satuan lebih murah, mencerminkan pergeseran preferensi akibat tekanan ekonomi. "Mal tetap menjadi pusat berkumpul, tapi isi keranjang belanja berubah," ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia.
Namun, stabilitas kunjungan itu dibayangi oleh membengkaknya biaya operasional. Pelemahan nilai tukar rupiah dan gejolak global yang mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) telah membuat biaya logistik melonjak. Alhasil, beban operasional pengelola mal naik lebih dari 30 persen. Kondisi ini memaksa para pengusaha untuk lebih selektif dalam menentukan lokasi ekspansi.
Fenomena ini menarik karena selama bertahun-tahun Pulau Jawa menjadi primadona investasi properti ritel. Kini, pengembang mulai melirik potensi di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan wilayah timur Indonesia. Menurut Alphonzus, segmen pasar menengah bawah di luar Jawa masih cukup menjanjikan, terutama di kota-kota dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil. "Potensi di sana masih besar, dan biaya lahan lebih kompetitif," tambahnya.
Bagi investor dan pelaku usaha properti di Indonesia, pergeseran ini membawa implikasi ganda. Di satu sisi, diversifikasi geografis dapat mengurangi risiko konsentrasi di Jawa yang sudah jenuh. Namun di sisi lain, infrastruktur logistik dan daya beli di luar Jawa masih menjadi tantangan. Pemerintah pun perlu mencermati tren ini sebagai sinyal untuk mempercepat pemerataan pembangunan ekonomi.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah strategi ekspansi ke luar Jawa akan cukup untuk menjaga pertumbuhan industri pusat belanja di tengah ketidakpastian ekonomi 2026. Atau justru tekanan daya beli yang terus berlanjut akan memaksa pengelola mal untuk berinovasi lebih jauh, misalnya dengan mengubah konsep menjadi pusat komunitas atau mengintegrasikan layanan digital?



