Jokowi Segera Resmi Bergabung ke PSI: Jaket Partai Akan Disematkan Kaesang
Baca dalam 60 detik
- Presiden ke-7 Joko Widodo dipastikan akan menerima jaket PSI secara resmi dalam waktu dekat, menandai perpisahan politik dengan PDIP.
- Ketua DPP PSI Bestari Barus menyebut penyematan jaket tinggal menunggu keputusan Ketua Umum Kaesang Pangarep.
- Langkah ini diyakini akan memperjelas peta koalisi menjelang pemilu mendatang dan berdampak pada dinamika politik nasional.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4737705/original/055851600_1707347326-WhatsApp_Image_2024-02-08_at_02.46.06.jpeg)
Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) segera menerima jaket Partai Solidaritas Indonesia (PSI) secara resmi, sebuah langkah yang menegaskan perpindahan politiknya dari PDI Perjuangan (PDIP). Ketua DPP PSI Bestari Barus mengonfirmasi bahwa penyematan jaket tersebut tinggal menunggu keputusan Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, yang akan menentukan waktu dan tempat acara.
Bestari mengungkapkan bahwa sebenarnya Jokowi sudah lama dekat dengan PSI. Bahkan, pengurus DPP PSI pernah menyematkan jaket partai kepadanya secara informal, dan Jokowi sempat memakainya. Namun, kali ini prosesnya akan dilakukan secara formal sebagai simbol yang dapat dipahami publik mengenai posisi politik mantan presiden tersebut. "Kalau simbolis daripada itu diharapkan sebagai satu permakluman bagi seluruh masyarakat republik kita ini," ujar Bestari kepada Liputan6.com, Sabtu (13/6/2026).
Menurut Bestari, Jokowi sejatinya sudah menjadi bagian dari PSI sejak lama. Ia menegaskan bahwa pernyataan Jokowi dalam Kongres PSI yang berjanji mendukung penuh partai tersebut menjadi bukti kuat. "Tidak mungkin kader dari partai lain menyatakan itu," kata Bestari. Pengumuman resmi mengenai posisi Jokowi di PSI, termasuk jabatan yang mungkin diemban, akan disampaikan langsung oleh Kaesang dalam waktu dekat.
Langkah ini memiliki implikasi signifikan bagi peta politik Indonesia. Jokowi, yang selama dua periode menjabat presiden dari PDIP, kini secara terbuka beralih ke partai yang dipimpin putra bungsunya. Hal ini tidak hanya memperkuat posisi PSI sebagai partai yang dekat dengan kekuasaan, tetapi juga berpotensi mengubah konstelasi koalisi menjelang pemilu mendatang. Bagi PDIP, kehilangan figur sentral seperti Jokowi bisa menjadi pukulan berat, terutama dalam mempertahankan basis pemilih.
Bestari juga menyebutkan bahwa PSI berharap agenda safari politik Jokowi ke berbagai daerah dapat menjadi momentum bagi mantan presiden itu untuk menegaskan langsung posisinya kepada masyarakat. "Kita harapkan Pak Jokowi menyampaikan posisi politiknya bahwa sudah tidak lagi di PDIP tapi sudah ada di PSI," jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa PSI ingin memanfaatkan popularitas Jokowi untuk memperluas pengaruh partai di tingkat akar rumput.
Bagi masyarakat Indonesia, perpindahan politik Jokowi ke PSI menimbulkan pertanyaan tentang arah dukungannya di masa depan. Apakah ini sekadar simbol belaka atau akan diikuti dengan peran aktif dalam memenangkan PSI pada pemilu? Jawabannya mungkin akan terungkap setelah pengumuman resmi dari Kaesang. Yang jelas, langkah ini menambah dinamika baru dalam percaturan politik nasional yang semakin menarik menjelang kontestasi elektoral.



