Stokes Kembali Berlatih Usai Skandal Curfew, Masa Depan Kapten Inggris Masih Abu-Abu
Baca dalam 60 detik
- Ben Stokes kembali berlatih bersama Durham setelah insiden pelanggaran jam malam yang membuatnya dicoret dari laga kedua melawan Selandia Baru.
- ECB masih menyelidiki insiden tersebut, dan keputusan soal masa depan Stokes sebagai kapten belum diambil.
- Stokes masih bisa bermain di kriket domestik, mengindikasikan kariernya belum berakhir meski spekulasi pensiun sempat mencuat.

Ben Stokes kembali mengikuti sesi latihan bersama Durham pada Sabtu lalu, hanya beberapa hari setelah insiden pelanggaran jam malam yang membuat kapten timnas Inggris itu dicoret dari laga kedua melawan Selandia Baru. Kehadirannya di Chester-le-Street menjadi sinyal bahwa karier internasional Stokes belum berakhir, meski masa depannya sebagai kapten masih diselimuti ketidakpastian.
Stokes dan pelempar cepat Gus Atkinson dinyatakan tidak tersedia untuk laga kedua di The Oval yang dimulai Rabu mendatang, menyusul investigasi yang dilakukan oleh England and Wales Cricket Board (ECB). Keduanya melanggar jam malam tengah malam tim Inggris setelah kemenangan atas Selandia Baru pada laga pertama, Minggu lalu. Mereka berada di sebuah klub malam pada Senin dini hari saat seorang petugas keamanan dipukul oleh pemain rugby Saracens.
Stokes, yang kini berusia 35 tahun, terlihat melakukan pemanasan lemparan di lapangan sebelum pertandingan, lalu berlatih memukul di jaring bersama pelatih batting Durham, Dale Benkenstein. Rekan setimnya di Durham dan timnas, Emilio Gay, juga turut berlatih. Meski dilarang tampil di laga internasional, ECB mengizinkan Stokes dan Atkinson untuk tetap bermain di kriket domestik. Keduanya berpotensi tampil pada putaran berikutnya Kejuaraan County yang dimulai Jumat ini—Durham menjamu Northants, sementara Surrey (tempat Atkinson bermain) bertandang ke Glamorgan.
ECB sebelumnya merilis pernyataan yang mengonfirmasi bahwa Stokes dan Atkinson melanggar protokol tim dengan melanggar jam malam, dan badan pengatur itu akan menyelidiki. Dalam beberapa laporan awal, sempat beredar spekulasi bahwa Stokes mempertimbangkan pensiun. Namun, isu itu mereda setelah ia kembali berlatih. Direktur Kriket Inggris, Rob Key, ketika ditanya apakah ia memperkirakan Stokes akan bermain lagi di kriket internasional, menjawab, "Saya tidak melihat alasan mengapa tidak." Namun, Key tidak memberikan jaminan soal kembalinya Stokes sebagai kapten—posisi yang dipegangnya sejak 2022. "Ada banyak hal yang harus terjadi sebelum itu," ujar Key. "Kami harus menjalankan investigasi, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kami masih dalam proses. Tidak ada keputusan yang akan diambil sampai setelah itu."
Menurut sumber internal, ECB masih membuka semua opsi terkait Stokes dan jabatan kapten, tergantung hasil investigasi. Namun, ECB membantah telah meminta Stokes untuk mundur sebagai kapten. Gagasan bahwa para petinggi ECB bersatu untuk mencopot Stokes dari jabatan kapten juga dinilai tidak benar. Hasil investigasi diperkirakan belum akan keluar sebelum laga kedua dimulai. Jika belum selesai, ECB harus memberikan pembaruan sebelum skuad untuk laga ketiga di Trent Bridge diumumkan—laga itu dimulai tiga hari setelah jadwal hari terakhir laga kedua.
Bagi penggemar kriket di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa disiplin dan kepemimpinan di olahraga profesional kerap diuji oleh insiden di luar lapangan. Meski kriket belum sepopuler sepak bola di Tanah Air, perkembangan di Inggris tetap menarik perhatian karena banyak pemain diaspora Indonesia yang mengikuti karier para bintang internasional. Ke depan, pertanyaan terbesar adalah apakah Stokes akan tetap memimpin Inggris di laga-laga penting, atau apakah ECB akan mengambil langkah tegas yang mengubah peta kekuatan tim.



