Ujian Shinnecock: Bisakah Bob MacIntyre Tebus Kegagalan di US Open?
Baca dalam 60 detik
- Bob MacIntyre, runner-up US Open 2025, menghadapi lintasan brutal Shinnecock Hills dalam performa yang belum stabil setelah kelahiran anak pertamanya.
- Lapangan Shinnecock dikenal dengan green licin dan angin kencang, yang justru diyakini cocok dengan permainan MacIntyre yang kuat di pukulan pendek dan putting.
- Pakar Paul McGinley menilai masalah MacIntyre bukan pada golf, melainkan adaptasi hidup sebagai ayah baru, dan optimistis ia akan bangkit.

Setahun setelah kehilangan gelar US Open secara dramatis di Oakmont, pegolf Skotlandia Bob MacIntyre kembali berburu mahkota mayor pertamanya di Shinnecock Hills, lapangan yang dikenal sebagai salah satu ujian paling kejam dalam golf profesional. Namun, momentumnya tidak sedang ideal: sejak menjadi ayah pada Maret lalu, performanya menurun drastis dengan dua kali gagal cut di Augusta dan PGA Championship.
MacIntyre, yang kini berusia 29 tahun, menutup 2025 sebagai pemain nomor tujuh dunia setelah finis kedua di US Open, masuk 10 besar di The Open, dan membantu Eropa mempertahankan Piala Ryder. Awal 2026 ia diprediksi akan segera memecahkan rekor mayor, tetapi kenyataannya hanya dua hasil bagus yang ia catat: peringkat keempat di The Players dan runner-up di Valero Texas Open. Setelah itu, grafiknya menurun tajam.
Di Augusta, ia tercatat melontarkan gestur tidak sportif setelah melakukan quadruple bogey di hole 15, yang berujung pada teguran resmi dari pihak klub. Bulan berikutnya, ia juga gagal lolos cut di PGA Championship. Hingga pekan lalu di Canadian Open, finis ke-15 menjadi sinyal positif pertama setelah rentetan hasil buruk. Turnamen itu ia menangi pada 2024 dengan ayahnya sebagai caddy, dan performa empat ronde di bawah 70 stroke memberi secercah harapan.
Menurut Paul McGinley, mantan kapten Ryder Cup yang kini menjadi analis Golf Channel, masalah MacIntyre bukan terletak pada teknik golfnya, melainkan pada transisi kehidupan. "Dia baru saja memiliki bayi beberapa bulan lalu, sebelum Masters. Itu bukan pengganggu, tetapi penyesuaian besar. Begitu dia menetap, performanya akan kembali," ujar McGinley dalam konferensi pers pra-turnamen. McGinley menambahkan bahwa MacIntyre adalah pejuang sejati dengan hati besar, dan justru kondisi Shinnecock yang berangin dan fairway keras akan menguntungkan permainannya yang terbiasa dengan lapangan links Skotlandia.
Shinnecock Hills, yang direnovasi oleh firma Coore-Crenshaw pada 2013, memiliki reputasi menakutkan. Pada 2018, hanya satu pegolf yang finis di bawah par (Koepka dengan +1), sementara pada 2004 hanya Retief Goosen dan Phil Mickelson yang berhasil mencatat skor di bawah par. Green yang licin dan cepat menjadi momok utama. Mantan juara seperti Corey Pavin (1995) dan Goosen (2004) adalah pegolf dengan pukulan pendek dan putting yang brilian—profil yang cocok dengan MacIntyre, yang meskipun akurasi drivenya pas-pasan (ke-46 PGA Tour), memiliki sentuhan luar biasa di sekitar green.
Bagi penggemar golf Indonesia, kisah MacIntyre mengingatkan pada perjuangan atlet Tanah Air yang harus menyeimbangkan karier dan keluarga. Di tengah dominasi pegolf Amerika dan Eropa, momen seperti ini menunjukkan bahwa faktor non-teknis sering menjadi penentu di level tertinggi. Shinnecock Hills bukan tempat yang ramah bagi pegolf yang sedang mencari ritme, tetapi justru di sinilah karakter sejati seorang juara diuji.
Pertanyaan besarnya: mampukah MacIntyre mengulang performa gemilang setahun lalu, ataukah tekanan sebagai ayah baru dan reputasi lapangan yang mengerikan akan kembali menghancurkannya? Dengan pukulan pendek yang tajam dan mentalitas petarung, ia memiliki semua alat untuk menebus kegagalan di Oakmont. Namun, golf adalah permainan yang tidak pernah memberi jaminan—terutama di Shinnecock.



