Joe Root Kembali Pimpin Inggris: Ambil Alih Kapten untuk Satu Pertandingan
Baca dalam 60 detik
- Joe Root kembali menjadi kapten Inggris pada Tes kedua melawan Selandia Baru setelah Ben Stokes diskors karena melanggar jam malam.
- Root mengaku iri dengan kesempatan Stokes bekerja sama dengan pelatih Brendon McCullum, dan kini ia akan memimpin tim muda dengan dua debutan.
- Keputusan ini diambil di tengah upaya Inggris menjaga stabilitas, sementara Root menegaskan fokusnya hanya pada pertandingan pekan ini.

Joe Root secara mengejutkan kembali memegang ban kapten tim nasional Inggris dalam pertandingan Tes kedua melawan Selandia Baru yang berlangsung Rabu (30/11/2024) di The Oval. Keputusan ini diambil setelah kapten utama Ben Stokes diskors karena melanggar jam malam tim usai kemenangan pada Tes pertama. Root, yang sebelumnya memimpin Inggris dalam rekor 64 Tes antara 2017 dan 2022, mengaku hanya akan menjalankan peran ini secara "game-by-game" tanpa memikirkan jangka panjang.
Kembalinya Root ke posisi kepemimpinan terjadi di saat yang krusial. Inggris tengah membangun kembali tim setelah rentetan hasil buruk di masa lalu, dan kini harus menghadapi Selandia Baru tanpa beberapa pemain inti. Stokes, yang merupakan sahabat dekat Root, harus absen setelah terlibat dalam insiden di klub malam London yang mengakibatkan seorang anggota staf keamanan Inggris dipukul oleh pemain rugby Saracens. Meski demikian, Root menegaskan bahwa Stokes masih dihormati di ruang ganti.
Root sendiri mengakui bahwa ia sempat merasa "iri" terhadap Stokes karena kesempatan bekerja sama dengan pelatih kepala Brendon McCullum, yang dikenal dengan pendekatan agresifnya. "Saya sangat menikmati beberapa hari terakhir bekerja dengan Baz dalam kapasitas yang sedikit berbeda. Itu adalah satu hal yang membuat saya sedikit iriโkesempatan untuk bekerja dengan seseorang seperti Baz dalam peran seperti ini," ujar Root. Ia menambahkan bahwa pengalaman ini terasa "sangat keren" dan berbeda dari masa kepemimpinannya sebelumnya yang penuh tekanan.
Keputusan untuk menunjuk Root sebagai kapten darurat mengalahkan wakil kapten Harry Brook, yang juga memiliki masalah disiplin di masa lalu. Brook sebelumnya terlibat kontroversi di Wellington saat ia terkena lemparan bola dari seorang bouncer pada malam sebelum pertandingan bola putih musim dingin lalu. Dengan absennya Stokes dan Brook yang tidak dipilih, Root akan memimpin tim yang sangat muda, termasuk dua debutan: Jordan Cox dan Sonny Baker. Situasi semakin rumit karena kiper Jamie Smith belum pasti tampil karena istrinya sedang menunggu kelahiran anak kedua; jika tidak bisa bermain, James Rew dari Somerset akan menjadi debutan ketiga.
Root mengakui bahwa ia tidak pernah menyangka akan kembali menjadi kapten. "Jika Anda bertanya kepada saya awal tahun ini, saya akan mengatakan kemungkinannya 0,1 persen," katanya. Namun, ia merasa bahwa situasi darurat ini membutuhkan pengalaman dan ketenangan. "Saya hanya berpikir sejenak sebelum memutuskan. Yang terpenting adalah apa yang terbaik bagi tim, dan apakah ini akan berdampak besar pada kehidupan pribadi saya," jelas Root. Ia menambahkan bahwa ia sekarang berada dalam "tempat yang sangat berbeda" secara mental dibandingkan saat ia mengundurkan diri pada 2022.
Bagi penggemar kriket di Indonesia, kembalinya Root ke kursi kapten menyoroti dinamika kepemimpinan dalam olahraga profesional. Di tengah tekanan untuk tampil konsisten, keseimbangan antara kehidupan pribadi dan tanggung jawab tim menjadi isu universal. Root sebelumnya mengaku memiliki "hubungan yang tidak sehat" dengan pekerjaan kapten, terutama selama pandemi Covid-19 ketika ia memimpin dalam 20 Tes di lingkungan terkunci. "Saya merasa sangat terkuras dan tidak menjadi diri saya sendiri. Saat itu adalah waktu yang tepat untuk mundur, bukan hanya karena performa buruk," ungkapnya.
Pertandingan Tes kedua ini akan menjadi ujian bagi kemampuan Root dalam mengelola tim muda di tengah tekanan. Dengan hanya berfokus pada satu pertandingan, ia berharap bisa memberikan kontribusi maksimal. Pertanyaan besarnya: mampukah Root membawa Inggris bangkit dan mengamankan kemenangan, atau justru mengulang masa kelam kepemimpinannya yang lalu?


