Beasley Frustrasi dengan Politik Balap Sepeda Malaysia, Siap Mundur Setelah Asian Games
Baca dalam 60 detik
- Direktur teknis balap sepeda Malaysia, John Beasley, menyatakan akan mundur setelah Asian Games Oktober karena kecewa dengan politik internal yang menghambat kemajuan.
- Konflik terbaru dipicu oleh penolakan beberapa negara bagian untuk melepas atlet junior ke Kejuaraan Dunia, lebih memilih fokus pada Pekan Olahraga Nasional (Sukma).
- Kepergian Beasley berpotensi mengganggu regenerasi pembinaan atlet sepeda Malaysia yang selama dua dekade terakhir dibangunnya.

John Beasley, arsitek di balik kesuksesan balap sepeda trek Malaysia, mengaku sudah berada di ambang batas kesabaran. Pelatih asal Australia itu menyatakan niatnya untuk meninggalkan posisinya sebagai direktur teknis setelah Asian Games Aichi-Nagoya pada Oktober mendatang, frustrasi dengan intrik politik yang menurutnya menghambat perkembangan olahraga tersebut.
Beasley telah mengabdikan dua dekade untuk membangun Malaysia menjadi kekuatan balap sepeda trek Asia. Ia memulai sebagai pelatih kepala dan sejak tahun lalu menjabat sebagai direktur teknis. Kontraknya sebenarnya masih berlaku hingga 31 Januari tahun depan, namun ia mengaku sudah tidak tahan lagi dengan situasi yang ada.
"Saya merasa sangat sulit, terutama dalam hal bagaimana kami akan maju karena kami sepertinya tidak memiliki arah dan kepemimpinan," ujar Beasley dalam pernyataan yang dikutip media setempat. "Semakin saya mencoba memimpin, semakin banyak orang yang mendorong dengan agenda mereka sendiri."
Puncak kekesalan Beasley terjadi ketika beberapa negara bagian menolak melepas atlet junior mereka untuk mengikuti Kejuaraan Dunia Junior Trek di Belgia pada 19-23 Agustus. Alasan mereka ingin atlet tersebut berlaga di Pekan Olahraga Nasional (Sukma) di Selangor pada 31 Agustus hingga 8 September. Menurut Beasley, keputusan ini menunjukkan prioritas yang keliru dan kurangnya visi jangka panjang.
"Ada beberapa orang yang sangat nakal saat ini, dan ketika atasan saya tidak turun tangan untuk menyelesaikan keributan ini, maka bagi saya, saya tidak ingin bekerja lagi untuk orang-orang itu," kata Beasley dengan nada kecewa. Ia menambahkan bahwa ia masih merasa memiliki banyak hal untuk diberikan, tetapi tidak akan melakukannya dengan orang-orang yang tidak menghormatinya.
Kekhawatiran Beasley bukannya tanpa dasar. Selama ini, ia dikenal sebagai sosok yang disiplin dan berorientasi pada prestasi. Di bawah bimbingannya, Malaysia berhasil meraih medali emas di Asian Games dan tampil kompetitif di level dunia. Namun, konflik antara kepentingan nasional dan daerah kerap menjadi batu sandungan. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Malaysia, tetapi juga relevan dengan konteks Indonesia, di mana sinkronisasi antara program pelatnas dan kepentingan daerah seringkali menjadi tantangan serius.
Jika Beasley benar-benar pergi, Malaysia akan kehilangan figur sentral yang telah membangun sistem pembinaan dari bawah. Pertanyaan besarnya adalah: siapa yang mampu menggantikan perannya? Tanpa kepemimpinan yang kuat, dikhawatirkan prestasi balap sepeda Malaysia akan merosot. Sementara itu, Beasley mengisyaratkan akan mencari tantangan baru di negara lain yang lebih menghargai kontribusinya.
Kisah Beasley menjadi pengingat bahwa olahraga tidak bisa lepas dari politik. Namun, ketika politik mengalahkan prestasi, yang dirugikan adalah atlet dan masa depan olahraga itu sendiri. Akankah pengurus olahraga Malaysia segera bertindak sebelum terlambat?



