Vingegaard di Ambang Sejarah: Giro d'Italia Hanya Formalitas
Baca dalam 60 detik
- Jonas Vingegaard memenangi etape 20 Giro d'Italia dengan serangan solo di tanjakan terakhir, memperkuat posisinya sebagai pemimpin klasemen.
- Kemenangan ini membuatnya hanya perlu finis di etape 21 di Roma untuk meraih triple crown, bergabung dengan legenda seperti Eddy Merckx.
- Penampilan dominan Vingegaard di Giro perdana menegaskan statusnya sebagai pebalap terkuat di dunia saat ini.

Jonas Vingegaard hanya perlu menyelesaikan etape final di Roma tanpa insiden besar untuk mengukir namanya dalam sejarah balap sepeda dunia. Pebalap asal Denmark itu sukses memenangi etape 20 Giro d'Italia, Sabtu, dengan serangan tunggal di tanjakan terakhir menuju Piancavallo, memperlebar jarak atas para pesaingnya.
Kemenangan di etape pegunungan sepanjang 200 km dari Gemona del Friuli itu memastikan Vingegaard akan menjadi juara Giro d'Italia 2025, asalkan ia finis dengan aman di etape 21 yang datar di Roma. Jika berhasil, ia akan menjadi pebalap kedelapan dalam sejarah yang meraih triple crownโmemenangi Tour de France, Vuelta a Espaรฑa, dan Giro d'Italia dalam kariernya. Prestasi ini sebelumnya hanya dicapai oleh legenda seperti Eddy Merckx, Bernard Hinault, dan Alberto Contador.
Vingegaard, yang sudah dua kali juara Tour de France dan memenangi Vuelta tahun lalu, tampil dominan di Giro perdananya. Ia telah memenangi lima etape dalam edisi ini, menunjukkan superioritasnya di berbagai medan. Memasuki etape 20, ia unggul 4 menit 3 detik atas Felix Gall dari Austria di klasemen umum. Setelah etape tersebut, keunggulannya melebar menjadi 5 menit 22 detik.
Strategi Visma-Lease a Bike kembali menjadi kunci. Vingegaard bersembunyi di dalam peloton selama dua pertiga awal etape, dikawal dua rekan setimnya. Baru pada 10 km terakhir ia melancarkan akselerasi yang tak mampu diimbangi Gall. Pebalap Austria itu sempat berusaha mengejar, tetapi Vingegaard terus menjauh hingga finis dengan keunggulan lebih dari satu menit.
"Kami all-in untuk etape ini. Ini hari terakhir di pegunungan, jadi hari ini segalanya akan ditentukan," ujar Vingegaard usai balapan. "Anak-anak melakukan pekerjaan luar biasa lagi. Saya juga punya hari yang luar biasa. Memenangi lima etape di sini dan memiliki keunggulan solid menjelang etape terakhir terasa spesial bagi saya."
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, pencapaian Vingegaard menjadi tontonan kelas dunia yang langka. Meski belum ada pebalap Indonesia yang tampil di Giro, dominasi Vingegaard mengingatkan pada era keemasan balap sepeda Eropa. Keberhasilannya meraih triple crown dalam waktu kurang dari setahun menunjukkan betapa tingginya level persaingan di WorldTour. Hal ini juga menjadi tolok ukur bagi perkembangan balap sepeda Asia, termasuk Indonesia, yang masih berjuang untuk menembus panggung elit.
Etape terakhir di Roma, Minggu, biasanya menjadi prosesi seremonial dengan sprint massal. Namun, Vingegaard harus tetap waspada terhadap potensi kecelakaan atau insiden teknis. Jika ia finis tanpa masalah, ia akan mengukir prestasi yang hanya dicapai segelintir pebalap dalam sejarah. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan performa ini untuk musim-musim mendatang, atau justru ini menjadi puncak kariernya?