Shin Tae-yong Dinilai Bawa Harapan Baru: Jakmania Optimis Persija Juara di Usia Jakarta 500 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Persija Jakarta resmi menunjuk Shin Tae-yong sebagai pelatih kepala dengan kontrak tiga tahun, menggantikan Mauricio Souza.
- Irlan Alarancia, sesepuh Jakmania, menilai STY memiliki portofolio terbaik di antara pelatih Persija sebelumnya, merujuk pada pencapaiannya bersama Timnas Indonesia.
- Optimisme tinggi muncul bahwa STY bisa membawa Persija juara BRI Super League 2026/2027, bertepatan dengan perayaan 500 tahun Jakarta.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8055770/original/088500500_1780899522-ChatGPT_Image_Jun_8__2026__01_15_55_PM.jpg)
Persija Jakarta mengambil langkah berani dengan menunjuk Shin Tae-yong (STY) sebagai pelatih kepala untuk tiga musim ke depan, sebuah keputusan yang langsung memicu optimisme besar di kalangan suporter. Mantan arsitek Timnas Indonesia itu diharapkan tidak hanya membawa gaya kepelatihan disiplin ala Korea Selatan, tetapi juga mengakhiri puasa gelar Macan Kemayoran tepat pada momen bersejarah: perayaan 500 tahun Jakarta pada 22 Juni 2027.
Keputusan manajemen Persija mengontrak STY menuai respons positif dari berbagai pihak, terutama dari kelompok suporter setia, Jakmania. Irlan Alarancia, salah satu tokoh senior Jakmania, secara terbuka menyatakan keyakinannya bahwa STY adalah pelatih dengan profil paling mentereng yang pernah dimiliki Persija. “Baru kali ini Persija mengontrak pelatih dengan portofolio wah banget,” ujarnya dalam kanal YouTube Bola Bung Binder.
Irlan membandingkan STY dengan deretan pelatih sebelumnya seperti Teco, Rahmad Darmawan, Thomas Doll, hingga Mauricio Souza. Menurutnya, prestasi STY bersama Timnas Indonesia—membawa tim senior lolos ke putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia dan mengantar Timnas U-23 ke semifinal Piala Asia U-23 2024—jauh melampaui pencapaian para pendahulunya di level klub. “Dia bahkan mengalahkan Korea Selatan di semifinal. Itu prestasi yang luar biasa,” tambah Irlan.
Optimisme Irlan tidak hanya didasarkan pada catatan prestasi, tetapi juga pada karakter kepelatihan STY yang dinilainya mampu membangun disiplin, kebugaran, dan regenerasi pemain. Ia mengingat momen final Piala AFF 2020 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, di mana ribuan suporter memadati area Senayan, FX, hingga Plaza Indonesia. “Euforia terhadap timnas di era STY mencapai puncak. Anak-anak muda yang tadinya tidak peduli jadi ikut nonton,” kenangnya.
Menurut Irlan, kehadiran STY memberikan dimensi baru bagi Persija. Jika sebelumnya klub lebih sering merekrut pelatih dengan prestasi di level domestik, kini mereka mendapatkan figur yang telah teruji di pentas internasional. “Profilnya berbeda. Ini membuat saya yakin Persija bisa juara tahun depan,” tegasnya. Keyakinan itu juga didorong oleh kemampuan STY dalam meregenerasi pemain muda, seperti yang ia lakukan dengan memunculkan Marselino Ferdinan dan Rizky Ridho di Timnas Indonesia.
Namun, tantangan tetap ada. STY harus beradaptasi dengan kultur klub dan tekanan tinggi dari suporter yang haus gelar. Persija sendiri terakhir kali meraih trofi Liga Indonesia pada 2018. Dengan kontrak tiga tahun, manajemen memberi waktu yang cukup, tetapi ekspektasi langsung tertuju pada musim depan. Apakah STY mampu mengulang suksesnya bersama Timnas Indonesia dan membawa Persija ke puncak? Jawabannya akan mulai terlihat saat kompetisi BRI Super League 2026/2027 bergulir.



