Jepang Waspadai Jebakan Kedua: Belajar dari Kekalahan Kontra Kosta Rika
Baca dalam 60 detik
- Tim Samurai Blue mengincar kemenangan perdana di Piala Dunia 2026 setelah bermain imbang 2-2 melawan Belanda, namun waspada terhadap jebakan laga kedua seperti empat tahun lalu.
- Pelatih Tunisia dipecat setelah kekalahan telak 5-1 dari Swedia, membuat Jepang harus antisipasi perubahan taktik mendadak lawan.
- Kapten Ko Itakura dan pemain senior Yuto Nagatomo menekankan pentingnya fokus penuh tanpa euforia berlebihan.

Tim nasional Jepang memulai Piala Dunia 2026 dengan hasil positif saat menahan Belanda 2-2, namun para pemain justru meningkatkan kewaspadaan menjelang laga kedua melawan Tunisia, Sabtu mendatang. Pengalaman pahit di Qatar 2022, ketika mereka tumbang 1-0 dari Kosta Rika setelah mengalahkan Jerman, menjadi pelajaran berharga yang tidak ingin terulang.
Kapten Jepang, Ko Itakura, mengingatkan bahwa kemenangan atas Jerman di edisi sebelumnya justru memicu rasa puas diri yang berujung pada kekalahan dari tim yang dianggap lebih lemah. "Setelah menghajar Jerman lewat serangan balik, kami justru menguasai bola melawan Kosta Rika dan akhirnya kebobolan lewat skema serupa," ujarnya di sela latihan di pinggiran Nashville, Tennessee.
Situasi Tunisia saat ini mengingatkan pada pola serupa. Setelah dibantai Swedia 5-1, federasi sepak bola Tunisia memecat pelatih Sabri Lamouchi dan menunjuk Mondher Kebaier sebagai pelatih interim. Langkah ini membuat Jepang waspada terhadap kemungkinan perubahan taktik mendadak, seperti yang dilakukan Kosta Rika pada 2022.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, dinamika Grup F ini menarik karena menunjukkan betapa tipisnya margin antara sukses dan kegagalan di panggung dunia. Jepang, yang kerap menjadi tolok ukur kekuatan Asia, harus belajar dari kesalahan masa lalu untuk menjaga konsistensi. Sementara itu, Tunisia yang tengah dalam transisi kepelatihan bisa menjadi ancaman jika Jepang lengah.
Bek veteran Yuto Nagatomo, yang turut bermain saat Jepang dikalahkan Pantai Gading asuhan Lamouchi pada 2014, menegaskan bahwa perubahan pelatih justru bisa membuat lawan lebih berbahaya. "Kami tidak tahu sepak bola seperti apa yang akan dimainkan Tunisia setelah ganti pelatih. Jika tidak siap, kami bisa terkejut. Harus ada rasa urgensi," kata pemain berusia 39 tahun itu.
Pertandingan melawan Tunisia akan menjadi ujian mental bagi skuad asuhan Hajime Moriyasu. Jika mampu mengamankan tiga poin, Jepang akan melangkah ke babak 16 besar dengan modal percaya diri. Namun jika kembali terpeleset, mimpi melaju jauh bisa sirna.



