De Zerbi Bawa Angin Segar, Maddison Optimistis Tottenham Tampil Lebih Agresif
Baca dalam 60 detik
- James Maddison menaruh harapan besar pada era Roberto De Zerbi yang menjanjikan permainan ofensif di Tottenham.
- De Zerbi sukses menyelamatkan Spurs dari degradasi musim lalu dan kini membangun kembali skuad untuk bersaing di papan atas.
- Pulih dari cedera ACL, Maddison siap menjadi motor serangan saat Tottenham menjamu Brentford pada laga perdana Premier League.

Gelandang Tottenham Hotspur James Maddison menyambut era baru bersama manajer Roberto De Zerbi dengan keyakinan tinggi. Pemain berusia 29 tahun itu menilai filosofi menyerang pelatih asal Italia tersebut akan mengangkat permainannya dan membawa Spurs kembali bersaing di papan atas Premier League.
De Zerbi, yang ditunjuk pada Maret lalu setelah Igor Tudor dipecat, sukses membawa Tottenham keluar dari zona degradasi dan finis di peringkat ke-17. Maddison, yang musim lalu harus menepi karena cedera anterior cruciate ligament (ACL), menekankan pentingnya konsistensi dalam menerapkan strategi baru sang pelatih.
"Manajer sangat jelas. Targetnya adalah menjadi lebih baik, bermain sepak bola yang lebih atraktif, penuh gairah, dan bangga membela klub ini," ujar Maddison dalam sesi wawancara Selasa lalu. Mantan pemain Leicester City itu menambahkan, "Sebagai pemain, dia adalah pelatih yang ingin Anda bela karena dia sangat mencintai segala hal yang berhubungan dengan bola. Sangat menyerang, dan saya sangat bersemangat."
Maddison mengakui tim masih dalam proses mempelajari gaya bermain De Zerbi. Namun, ia optimistis pencapaian jangka panjang akan mengikuti jika pendekatan jangka pendek diterapkan dengan disiplin. Fokus utama saat ini adalah persiapan menuju laga pembuka Premier League melawan Brentford pada 22 Agustus.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kebangkitan Tottenham dengan wajah baru De Zerbi menjadi tontonan menarik. Gaya permainan menyerang yang diusung pelatih asal Italia itu kerap menghadirkan duel sengit dan gol-gol spektakuler, sesuatu yang sangat dinikmati publik tanah air. Jika berhasil, Spurs bisa kembali menjadi kekuatan yang disegani, sejalan dengan popularitas Premier League yang luar biasa di Indonesia.
De Zerbi sendiri bukan nama asing di pentas Eropa. Sebelum menangani Spurs, ia sempat melatih Shakhtar Donetsk dan Brighton, di mana ia dikenal dengan penguasaan bola dan pressing tinggi. Kini, tantangan terbesarnya adalah membangun kembali mentalitas pemenang di skuad yang sempat terpuruk. Pertanyaan besarnya: akankah pendekatan ofensif De Zerbi cukup untuk membawa Tottenham bersaing di papan atas, atau justru membuat lini belakang semakin rapuh?



