Emas di Commonwealth Games, Brock Whiston Persembahkan untuk Ayah Pengidap Parkinson
Baca dalam 60 detik
- Perenang paralimpiade Inggris Brock Whiston memecahkan rekor turnamen 100m dada SB8 di Glasgow 2026.
- Ayahnya, Gel, hadir langsung untuk pertama kali dalam 17 tahun setelah didiagnosis Parkinson.
- Kemenangan emosional ini menjadi hadiah spesial bagi sang ayah yang selama ini mendukung dari rumah.

Brock Whiston, perenang paralimpiade asal Inggris, berhasil merebut emas nomor 100 meter gaya dada SB8 di Commonwealth Games Glasgow 2026 sekaligus memecahkan rekor turnamen. Namun, yang membuat momen ini lebih dari sekadar prestasi adalah kehadiran sosok paling berarti di pinggir kolam: sang ayah, Gel, yang untuk pertama kalinya dalam 17 tahun menyaksikan langsung pertandingan putrinya.
Whiston, 29 tahun, bukanlah atlet sembarangan. Sebelum ajang ini, ia sudah menyandang gelar juara Paralimpiade, juara dunia, dan pemegang rekor dunia. Namun, dua hal selalu luput: medali emas Commonwealth Games dan kehadiran ayahnya di tribun. Gel dikenal tidak menyukai kolam renang—"bau kaporit dan panas," kata Whiston—sehingga ia lebih sering menjadi pendukung setia dari rumah. Dukungan itu tak pernah pudar, apalagi setelah Gel didiagnosis mengidap penyakit Parkinson beberapa waktu lalu.
"Ia mencium kepalaku dan bilang 'aku sayang kamu'. Sepertinya ia masih syok," kenang Whiston. Meski begitu, Gel sudah berjanji bahwa ini adalah kali pertama dan terakhir ia menonton langsung. "Ia bilang sekarang sudah selesai. Ia lebih bahagia mendukung dari rumah," tambah Whiston. Kehadiran tunggal itu terasa begitu istimewa—seperti penebus atas puluhan tahun dukungan jarak jauh yang tak terlihat.
Kisah Whiston menggambarkan betapa besar peran orang tua dalam karier atlet, termasuk di Indonesia. Atlet paralimpiade tanah air seperti Saptoyogo Purnomo (atletik) atau Ni Nengah Widiasih (angkat berat) juga kerap menyebut dukungan keluarga sebagai fondasi utama. Namun, momen ketika seorang ayah yang sakit dan tidak nyaman dengan lingkungan kolam renang tetap hadir untuk memberi semangat, mengingatkan bahwa olahraga bukan hanya soal medali, melainkan ikatan emosional yang melampaui batas fisik.
Ke depan, Whiston masih memiliki target di ajang internasional lain. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan performa puncak tanpa kehadiran sang ayah di tribun? Atau akankah Gel melanggar janjinya untuk sekadar melihat putrinya beraksi sekali lagi? Kisah mereka akan terus bergulir, meninggalkan jejak inspirasi bagi siapa pun yang percaya bahwa kemenangan sejati lahir dari cinta dan pengorbanan.



