Tim UGM Bantah Gas Alam, Ungkap Resin PVC Sebagai Pemicu Api Misterius di Sleman
Baca dalam 60 detik
- Peneliti UGM memastikan fenomena api spontan di rumah Fia, Sleman, bukan disebabkan gas alam atau gas hidrogen, melainkan resin PVC yang mudah terbakar.
- Resin PVC ditemukan pada residu kebakaran melalui uji FTIR, dan saat terbakar menghasilkan gas HCl yang memicu alarm detektor gas hidrogen.
- Kesimpulan ini mengakhiri investigasi tim PKPE UGM, yang selanjutnya menyerahkan temuan ke BPBD Sleman untuk penanganan lebih lanjut.

Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) memastikan bahwa fenomena api misterius yang meneror kediaman Mutfiana alias Fia di Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, bukan berasal dari gas alam atau gas hidrogen seperti dugaan awal. Temuan terbaru justru mengarah pada resin poly vinyl chloride (PVC) yang ditemukan pada residu pembakaran.
Koordinator PKPE, Alva Edy Tontowi, mengungkapkan bahwa berdasarkan analisis menggunakan metode Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) terhadap sampel residu dari dinding keramik dan kayu, tim menemukan kandungan PVC yang tidak lazim. "Resin poly vinyl chloride mudah terbakar jika bertemu sumber api. Resin ini telah ditemukan pada residu pembakaran berdasarkan pengujian metode FTIR," jelas Alva di Fakultas Teknik UGM, Sabtu (13/6).
Sebelumnya, tim sempat menduga gas hidrogen (H2) atau gas fosfin (PH3) sebagai pemicu. Namun, pengukuran medan elektromagnetik menunjukkan level aman, dan tidak ada anomali termal atau gas yang dapat menyala sendiri pada suhu kamar. "Yang berarti bukan pemantik nyala api; sumber api bukan dari rembesan gas alam dari bawah permukaan lantai," tegas Alva.
Alva menjelaskan bahwa ketika PVC terbakar, akan muncul gas hidrogen klorida (HCl). Gas ini dapat terbaca sebagai gas hidrogen oleh detektor gas yang memiliki sensor membran H2, fenomena yang dikenal sebagai cross sensitivity. "Gas hidrogen klorida yang memiliki atom hidrogen di dalam molekulnya akan membuat elektroda sensor hidrogen bereaksi, sehingga alat seolah membaca ada gas hidrogen," ujarnya.
Fenomena api misterius ini telah terjadi sebanyak 125 kali dalam 21 hari terakhir hingga Kamis (11/6). Berbagai lembaga, termasuk UGM, UPN 'Veteran' Yogyakarta, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebelumnya telah melakukan investigasi dengan metode georadar, geolistrik, dan geomagnetik untuk mendeteksi retakan bawah tanah atau gas yang mungkin keluar. Namun, temuan PKPE kini mematahkan dugaan keterlibatan gas alam atau gas hidrogen.
Menurut Alva, tim PKPE menyatakan bahwa penelitian mereka sudah tuntas dan hasilnya diserahkan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman untuk ditindaklanjuti. "Dengan adanya kesimpulan ini, kami serahkan hasil penelitian kepada BPBD Sleman," pungkasnya.
Kendati demikian, pertanyaan mengenai sumber api pemicu terbakarnya resin PVC masih belum terjawab. Apakah ada faktor eksternal seperti korsleting listrik atau percikan api lain yang memicu kebakaran? Penelitian lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mengungkap misteri yang telah meresahkan warga Sleman ini.



