Kekacauan Federasi Italia: Maldini Mundur, Mancini Kembali, dan Tantangan Regenerasi
Baca dalam 60 detik
- Paolo Maldini dan Leonardo mundur dari FIGC hanya setelah 16 hari karena ketidaksepakatan soal calon pelatih.
- Italia gagal mendekati Pep Guardiola, Carlo Ancelotti, dan Andrea Pirlo sebelum akhirnya memulangkan Roberto Mancini.
- Krisis ini mengungkap problem akut pembinaan usia muda di Italia, yang bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia.

Keputusan Roberto Mancini kembali menukangi Timnas Italia justru lahir dari kekacauan internal yang jarang terjadi di Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). Dalam waktu kurang dari sebulan, dua figur legendaris—Paolo Maldini dan Leonardo—lebih dulu hengkang karena gagal menyatukan visi soal siapa yang pantas menjadi nahkoda skuad Gli Azzurri.
FIGC menunjuk Maldini sebagai direktur teknis dan Leonardo sebagai penasihat khusus pada 12 Juli lalu. Tugas pertama mereka adalah mencari pengganti Gennaro Gattuso yang mengundurkan diri usai Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Namun, perburuan itu berubah menjadi sandiwara yang berakhir dengan pengunduran diri keduanya pada 28 Juli—hanya berselang 16 hari.
Presiden FIGC Giovanni Malago mengakui perbedaan pandangan menjadi penyebabnya. "Saya butuh seseorang yang satu visi dengan saya soal pelatih. Pada Mancini, visi itu tidak dimiliki Maldini," ujar Malago dalam konferensi pers. Ia menambahkan bahwa Maldini dan Leonardo bersikap gentleman, namun tetap teguh pada pendirian mereka.
Kegagalan FIGC mendekati pelatih top menjadi pemicu utama. Maldini dan Leonardo pertama kali merayu Pep Guardiola dengan tawaran gaji besar dan kewenangan penuh. Guardiola menolak karena ingin tetap cuti. Carlo Ancelotti yang tengah menangani Brasil juga menepis pendekatan mereka. Sedangkan Andrea Pirlo—mantan rekan setim Maldini dan Leonardo di AC Milan—ditolak oleh hierarki FIGC karena keterlibatannya mempromosikan perusahaan judi Rusia di tengah invasi Ukraina.
Keputusan mencoret Pirlo menjadi pukulan terakhir bagi Maldini dan Leonardo. Padahal, rekam jejak Pirlo sebagai pelatih biasa-biasa saja—dipecat Juventus, meninggalkan Fatih Karagumruk, dipecat Sampdoria, dan melatih klub Uni Emirat Arab. Namun, penolakan itu dinilai sebagai bentuk ketidakpercayaan terhadap otoritas mereka.
Malago kemudian mengambil alih sendiri perekrutan pelatih. Pilihannya jatuh pada Mancini—arsitek kemenangan Euro 2020—meskipun ia juga bertanggung jawab atas kegagalan lolos ke Piala Dunia 2022. Mancini sebelumnya secara kontroversial meninggalkan Italia untuk melatih Arab Saudi dengan bayaran tinggi. Kini ia kembali, namun tugasnya tak ringan.
Kekacauan ini berlangsung di saat Italia tengah terpuruk. Sejak juara Piala Dunia 2006, Gli Azzurri gagal lolos dari fase grup pada 2010 dan 2014, serta absen total pada 2018, 2022, dan 2026—kali ini bahkan dengan format 48 tim yang seharusnya memberi peluang lebih besar. Legenda Franco Baresi menyerukan reformasi total: "Sepak bola Italia harus mengakui kesalahannya, karena hasil 20 tahun terakhir sudah jelas, dengan pengecualian Euro 2020."
Laporan FIGC menyebut investasi pembinaan usia muda di Italia sangat rendah, baik di level klub maupun nasional. Mereka mengusulkan agar pemerintah mengubah undang-undang perjudian untuk mengalokasikan persentase taruhan sepak bola ke dana pembinaan. Namun, solusi semacam itu membutuhkan waktu dan kemauan politik.
"Italia tidak bisa terus datang di momen krusial hanya untuk memperebutkan tiket kualifikasi. Seluruh ekosistem harus introspeksi," kata Franco Baresi.
Bagi Indonesia, kasus Italia menjadi cermin betapa pentingnya stabilitas kepengurusan dan kesinambungan visi. PSSI yang tengah berbenah di bawah Erick Thohir bisa belajar dari kekacauan FIGC: perekrutan pelatih yang berbelit-belit, campur tangan politik, dan lemahnya pembinaan usia dini hanya akan memperpanjang siklus kegagalan. Jika Indonesia ingin serius bersaing di level Asia, reformasi struktural seperti yang diserukan Baresi harus dimulai dari hulu—bukan sekadar berganti-ganti pelatih.
Kini, dengan Mancini di bangku pelatih dan Claudio Ranieri (74 tahun) sebagai direktur teknis pengganti Maldini, Italia berharap ada titik terang. Namun, Malago harus menjual paket ini sebagai "era baru" yang berani—sementara faktanya, ia kembali pada figur lama yang sarat kontroversi. Akankah Mancini mampu membenahi akar masalah yang sudah mengakar dua dekade? Atau Italia hanya akan sekadar menjadi penonton di panggung besar sepak bola dunia?



