FIFA Buka Investasi Rp300 Triliun, Jual 20% Saham Entitas Bisnis Baru
Baca dalam 60 detik
- FIFA berencana melepas saham minoritas di entitas bisnis baru bernilai $20 miliar, ditaksir setara Rp300 triliun.
- JPMorgan ditunjuk sebagai bankir, dengan Greg Maffei sebagai penasihat komersial dan Thrive Capital sebagai calon investor utama.
- Langkah ini menandai keterbukaan sepak bola global terhadap investasi ventura, berpotensi memengaruhi alokasi dana ke federasi seperti PSSI.

FIFA, induk organisasi sepak bola dunia, dikabarkan tengah menjajaki penjualan saham minoritas dalam sebuah entitas komersial baru yang ditaksir bernilai sekitar $20 miliar (sekitar Rp300 triliun). Langkah ini menjadi sinyal bahwa badan sepak bola tertinggi itu mulai membuka pintu bagi investor eksternal untuk ikut serta dalam bisnis olahraga global.
Menurut sumber yang mengetahui langsung masalah ini, FIFA akan menggandeng bank investasi JPMorgan untuk menggalang dana dari pihak ketiga. Porsi saham yang dilepas mencapai 20 persen, sebuah angka yang cukup signifikan mengingat selama ini FIFA cenderung menjaga independensi komersialnya. Mantan CEO Liberty Media, Greg Maffei, turut didapuk sebagai penasihat komersial dalam pembentukan entitas tersebut.
Thrive Eternal, sebuah strategi investasi baru dari firma modal ventura Thrive Capital, diproyeksikan menjadi investor utama. Kendaraan modal permanen ini memang dirancang untuk investasi jangka panjang di waralaba dan institusi budaya. Thrive Eternal didirikan oleh Joshua Kushner, adik dari Jared Kushner yang merupakan menantu Presiden AS Donald Trump. Mantan CEO Walt Disney, Bob Iger, juga tercatat sebagai penasihat. Sebelumnya, Thrive Eternal telah mengambil saham minoritas di klub bisbol San Francisco Giants.
Langkah ini mengindikasikan pergeseran strategi FIFA dalam memonetisasi aset menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Dengan valuasi $20 miliar, entitas ini diyakini akan mengelola hak komersial turnamen dan program pengembangan. Namun, keterlibatan investor seperti Thrive Capital menimbulkan tanda tanya soal pengaruh pihak swasta terhadap kebijakan FIFA ke depan.
Bagi Indonesia, rencana ini membuka peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, investor Tanah Air berpotensi ikut menanamkan modal dalam ekosistem sepak bola global. Namun, di sisi lain, PSSI perlu mencermati bagaimana dana yang terkumpul akan dialokasikan ke negara berkembang. Selama ini, FIFA kerap mengucurkan dana pengembangan ke federasi anggota, dan kehadiran investor baru bisa mengubah porsi alokasi tersebut.
Selain itu, kehadiran figur seperti Bob Iger dan Greg Maffei memberi sinyal bahwa FIFA ingin mengadopsi model bisnis ala liga olahraga Amerika yang gemar menggandeng investor institusi. Ini berbeda dengan pendekatan tradisional FIFA yang lebih mengandalkan pendapatan dari sponsor dan hak siar. Namun, model baru ini juga berisiko menimbulkan benturan kepentingan jika investor memiliki agenda komersial tertentu.
Ke depannya, apakah langkah ini akan memperkuat atau justru menggerus independensi FIFA? Yang jelas, federasi di seluruh dunia, termasuk Indonesia, akan mengawasi ketat bagaimana mekanisme distribusi keuntungan berjalan. Jika transparan, skema ini bisa menjadi katalis pertumbuhan sepak bola di negara berkembang. Namun, jika sebaliknya, kekhawatiran mengenai komersialisasi berlebihan akan semakin menguat.



