Alix Earle Alami Panic Attack di Pesawat Akibat Komentar Negatif, Ungkap Perjuangan Mental
Baca dalam 60 detik
- Bintang TikTok Alix Earle mengalami serangan panik di dalam pesawat setelah bertubi-tubi menerima komentar negatif dari warganet.
- Dalam video terbarunya, Earle mengaku sempat mengambil jeda dari media sosial karena merasa tertekan dengan hujatan yang terus mengarah padanya.
- Fenomena perundungan daring ini menjadi pengingat bahwa popularitas di dunia digital kerap mengorbankan kesehatan mental, juga relevan di Indonesia.

Bintang TikTok Alix Earle, 25, menangis histeris dan mengalami serangan panik ketika berada di dalam pesawat beberapa waktu lalu, dipicu oleh banjir komentar pedas yang membanjiri unggahannya di media sosial.
Selebriti yang meroket berkat video Get Ready With Me ini mengaku sedang dalam kondisi kurang baik akhir-akhir ini. Setelah menghilang beberapa hari, Earle kembali membuat konten untuk menjelaskan alasan dirinya jarang memperbarui akun TikTok-nya.
โJujur, saya hanya meluangkan waktu untuk diri sendiri dan mencoba untuk tidak banyak online karena saya mulai berada di tempat yang tidak baik,โ ungkap Earle dalam video yang diunggah ulang oleh berbagai akun penggemar. Ia mengaku selama ini terbiasa membaca komentar tentang dirinya, namun belakangan komentar tersebut terasa lebih menyakitkan.
Earle menceritakan bahwa puncaknya terjadi saat ia terbang. โJantungku berdebar kencang, aku merasa tidak bisa bernapas, aku menangis. Itu adalah serangan panik yang nyata,โ katanya, sembari menegaskan bahwa ia tidak berniat mengeluh, melainkan ingin berbagi pengalaman sebagai manusia biasa.
Fenomena ini tidak hanya dialami oleh Earle. Di Indonesia, banyak kreator konten dan selebriti media sosial yang juga mengalami tekanan serupa akibat cyberbullying. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Diah Rahmawati, menilai bahwa paparan komentar negatif secara terus-menerus dapat memicu kecemasan dan depresi, terutama pada individu yang berada di bawah sorotan publik. โMembaca komentar tentang penampilan, perilaku, atau kehidupan pribadi secara berulang bisa mengikis harga diri dan memicu serangan panik,โ jelasnya.
Dalam wawancara dengan People pada April lalu, Earle mengaku sudah terbiasa dengan perbincangan tentang dirinya di dunia maya. โItu bagian dari pekerjaan. Kamu harus punya kulit yang tebal,โ ujarnya. Namun, pengalaman terbaru ini membuktikan bahwa batas ketahanan setiap orang ada batasnya, bahkan bagi mereka yang tampak percaya diri di depan layar.
Ke depannya, Earle berencana untuk lebih selektif dalam membaca komentar dan lebih fokus pada konten yang positif. Pertanyaan yang mengemuka: akankah para kreator konten lainnya juga mulai membatasi interaksi dengan warganet demi menjaga kesehatan mental? Atau justru platform media sosial perlu mengambil peran lebih aktif dalam menyaring ujaran kebencian?



