Obat Diabetes Populer GLP-1 Berpotensi Picu Gangguan Penglihatan Langka, Studi Temukan Risiko Kecil
Baca dalam 60 detik
- Dua studi terbaru mengaitkan penggunaan agonis GLP-1 dengan peningkatan risiko neuropati optik iskemik anterior non-arteritis (NAION), gangguan mata langka yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan mendadak.
- Risiko absolut tetap sangat rendah, yaitu sekitar 3โ4 tambahan kasus per 10.000 pasien dalam 18 bulan, dengan kelompok pria dan usia 50โ65 tahun memiliki kerentanan lebih tinggi.
- Para ahli menekankan manfaat metabolik dan kardiovaskular obat ini masih jauh lebih besar, dan pasien tidak dianjurkan menghentikan terapi tanpa konsultasi dokter.

Penggunaan obat golongan agonis reseptor GLP-1 yang populer untuk diabetes tipe 2 dan penurunan berat badan kini dikaitkan dengan peningkatan kecil risiko gangguan penglihatan langka bernama NAION, meskipun angka kejadian absolutnya tetap sangat rendah dan tidak mengubah rekomendasi klinis saat ini.
Dua studi independen yang diterbitkan secara bersamaan di Annals of Internal Medicine pada Maret 2025 menganalisis data dari Amerika Serikat dan Swedia. Studi AS oleh tim dari Rutgers University meneliti klaim asuransi kesehatan lebih dari 200.000 pasien diabetes tipe 2 berusia 18โ65 tahun, sementara studi Swedia dari Karolinska Institutet melibatkan lebih dari 293.000 partisipan berusia 35โ84 tahun yang baru memulai terapi GLP-1 atau SGLT-2 inhibitor.
Hasilnya menunjukkan bahwa pasien yang menggunakan obat seperti semaglutide (Ozempic, Wegovy) memiliki risiko relatif lebih tinggi terkena nonarteritic anterior ischemic optic neuropathy (NAION), suatu kondisi di mana aliran darah ke saraf optik terganggu sehingga menyebabkan kehilangan penglihatan mendadak dan seringkali permanen. Namun, dalam angka absolut, peningkatan itu hanya sekitar 0,02โ0,04 persen โ setara dengan tiga hingga empat kasus tambahan per 10.000 pasien dalam kurun waktu 1โ1,5 tahun.
โKami menemukan bahwa penggunaan agonis GLP-1 dikaitkan dengan peningkatan kecil risiko neuropati optik iskemik dalam 18 bulan dibandingkan dengan SGLT-2 inhibitor dan DPP-4 inhibitor,โ ujar Chintan Dave, profesor farmasi dan epidemiologi di Rutgers University yang memimpin studi AS. Ia menambahkan, sinyal risiko terkonsentrasi pada kelompok usia 50โ65 tahun dan pria, yang masing-masing mewakili 85% dan 70% kejadian. โKesimpulan utamanya, dokter dan pasien harus sadar akan potensi risiko ini, terutama pada kelompok berisiko tinggi, namun tetap mengakui bahwa risiko absolut sangat rendah.โ
Benjamin Bert, dokter spesialis mata dari MemorialCare Orange Coast Medical Center yang tidak terlibat dalam studi, menekankan pentingnya melihat angka absolut. โRisiko relatif menunjukkan peluang dua kali lipat, itu terdengar dramatis, tetapi jika dilihat peningkatan absolutnya hanya 0,02%, sangat kecil.โ
Meskipun demikian, para peneliti mengingatkan bahwa NAION, meski langka, dapat menyebabkan kehilangan penglihatan permanen secara tiba-tiba. Mereka merekomendasikan agar pasien segera memeriksakan diri ke dokter spesialis mata jika mengalami perubahan penglihatan mendadak, seperti pandangan kabur atau muncul bintik buta, terutama tanpa rasa sakit.
Dalam konteks Indonesia, temuan ini menjadi pengingat bagi dokter dan pasien diabetes yang menggunakan obat GLP-1 untuk tetap waspada, namun tidak perlu panik. Obat-obatan seperti semaglutide sudah tersedia di Indonesia dan diresepkan untuk diabetes tipe 2 serta obesitas. โManfaat jangka panjang obat ini dalam mengendalikan gula darah, menurunkan berat badan, dan mengurangi risiko serangan jantung serta gagal ginjal masih sangat signifikan,โ ujar Dave. Ia menegaskan, โSaya tidak akan merekomendasikan penghentian obat GLP-1 hanya karena studi ini.โ
Para penulis studi sepakat bahwa temuan ini tidak boleh mengubah praktik peresepan saat ini, tetapi menekankan pentingnya pemantauan berkelanjutan seiring meluasnya penggunaan GLP-1 di dunia. Mereka juga mencatat bahwa studi observasional tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat langsung, dan kemungkinan faktor perancu seperti tingginya beban faktor risiko kardiovaskular pada pengguna GLP-1 ikut berperan.
Ke depannya, riset lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme di balik hubungan ini dan menentukan apakah beberapa jenis GLP-1 memiliki profil risiko yang lebih rendah. โSemakin banyak data yang terkumpul, semakin baik kita memahami efek samping potensial, dan obat-obatan baru dapat disesuaikan untuk menurunkan risiko tersebut,โ kata Bert. Bagi pasien yang khawatir, diskusi dengan dokter mengenai pilihan terapi alternatif menjadi langkah bijak sebelum mengambil keputusan.



