Polda Sulteng Buka Operasi Gratis Celah Bibir dan Katarak, Target 200 Pasien
Baca dalam 60 detik
- Polda Sulawesi Tengah menyediakan operasi gratis celah bibir, katarak, dan pterygium dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80.
- Skrining dan tindakan dilakukan di RS Bhayangkara Palu pada Juni 2026, dengan syarat berat badan minimal bagi bayi.
- Program ini diharapkan mengurangi antrean operasi di rumah sakit umum dan menjadi model bakti sosial Polri ke depan.
Polda Sulawesi Tengah menggelar bakti kesehatan berupa operasi gratis celah bibir dan langit-langit, katarak, serta pterygium bagi masyarakat kurang mampu, menyasar warga yang selama ini terhambat biaya pengobatan.
Kegiatan yang bertajuk โPolri Wujud Pengabdian Untuk Negeriโ ini merupakan rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80. Kabidhumas Polda Sulteng menyatakan bahwa inisiatif ini lahir dari keprihatinan terhadap masih banyaknya penderita celah bibir dan katarak yang tidak tertangani karena keterbatasan ekonomi. โKami ingin menghadirkan manfaat langsung, khususnya bagi warga yang membutuhkan layanan operasi namun terkendala biaya,โ ujarnya, Senin (15/6/2026).
Pelaksanaan operasi celah bibir dan langit-langit akan dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III Palu. Tahap skrining dijadwalkan pada 22-23 Juni 2026, sedangkan tindakan operasi pada 24-25 Juni. Untuk operasi katarak dan pterygium, skrining berlangsung lebih awal, yakni 18-19 Juni, dan operasi pada 26-27 Juni. Seluruh biaya ditanggung oleh Polri.
Persyaratan bagi pasien celah bibir dan langit-langit cukup ketat. Selain fotokopi Kartu Keluarga, bayi penderita celah bibir minimal berusia tiga bulan dengan berat badan minimal lima kilogram. Sementara pasien celah langit-langit minimal berusia 18 bulan dengan berat badan minimal 10 kilogram. Pasien juga tidak boleh dalam kondisi batuk, pilek, demam, atau penyakit lain, dan harus dinyatakan sehat oleh tim medis sebelum operasi.
Bagi masyarakat Indonesia, program ini menjadi angin segar di tengah keterbatasan akses operasi plastik rekonstruktif dan katarak di daerah. Di Sulawesi Tengah, angka kelainan bawaan seperti celah bibir masih cukup tinggi, sementara operasi katarak sering tertunda karena biaya. Langkah Polri ini tidak hanya meringankan beban pasien, tetapi juga mengurangi antrean di rumah sakit umum. Ke depan, model bakti kesehatan seperti ini bisa direplikasi oleh kepolisian daerah lain, terutama di wilayah timur Indonesia yang akses kesehatannya terbatas.
Dengan target yang belum disebutkan secara resmi, program ini diharapkan mampu menjangkau puluhan hingga ratusan pasien. Pertanyaannya, apakah Polri akan memperluas jangkauan operasi gratis ini ke daerah-daerah terpencil lain yang selama ini minim layanan bedah?



