Pegulat Sumo Jepang Wakamotoharu dan Abi Sambangi Sekolah di Paris, Kenalkan Budaya Olahraga Tradisional
Baca dalam 60 detik
- Dua mantan pegulat sekiwake, Wakamotoharu dan Abi, mengunjungi sekolah dasar di Paris sehari sebelum turnamen eksibisi sumo digelar.
- Interaksi hangat terjadi saat anak-anak Prancis menyambut dengan nyanyian dan bergulat bersama para atlet, mencairkan perbedaan budaya.
- Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sumo ke kancah global, sekaligus mempererat hubungan Jepang-Prancis melalui olahraga.

Dua pegulat sumo papan atas Jepang, Wakamotoharu dan Abi, menyapa puluhan siswa sekolah dasar di Paris pada Jumat (13/6/2026), sehari sebelum turnamen eksibisi dua hari dimulai di ibu kota Prancis. Momen tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga jembatan budaya antara tradisi Jepang dan dunia Barat.
Kedua mantan pemegang gelar sekiwake—peringkat tertinggi ketiga dalam hierarki sumo—disambut meriah oleh sekitar 180 siswa yang menyanyikan lagu penyambutan. Wakamotoharu dan Abi pun tak segan bergulat ringan dengan beberapa anak, disambut sorak sorai penuh semangat. Saat hendak meninggalkan sekolah, Wakamotoharu mendapat pelukan hangat dari seorang murid. "Itu sangat menyenangkan. Kami tidak punya kebiasaan berpelukan, jadi saya merasa bahagia," ujarnya dengan senyum.
Dalam sesi tanya jawab, seorang anak bertanya bagaimana cara menjadi pegulat sumo. Wakamotoharu pun menjawab dengan candaan, "Saya menantikan panggilan telepon dari kalian kapan saja." Kelakar ini sontak mencairkan suasana dan menunjukkan sisi ramah para atlet. Sementara itu, Abi memuji anak-anak Prancis: "Mereka energik dan punya kemampuan komunikasi yang hebat. Saya justru terinspirasi oleh mereka."
Kunjungan ini bukan sekadar acara seremonial. Di tengah upaya Jepang mempromosikan sumo ke panggung global, interaksi langsung dengan masyarakat lokal—terutama anak-anak—menjadi strategi efektif untuk menumbuhkan minat. Bagi Indonesia, momen ini bisa menjadi pelajaran berharga. Olahraga tradisional seperti pencak silat atau sepak takraw juga memiliki potensi untuk diperkenalkan secara internasional melalui pendekatan serupa: melibatkan komunitas, bukan hanya kompetisi.
Turnamen eksibisi di Paris sendiri merupakan bagian dari rangkaian promosi sumo di luar Jepang. Dengan mengusung nilai-nilai disiplin, rasa hormat, dan sportivitas, sumo perlahan mulai diterima di negara-negara Barat. Kehadiran pegulat top seperti Wakamotoharu dan Abi menjadi daya tarik tersendiri. Pertanyaan selanjutnya: akankah sumo suatu hari nanti menjadi cabang olahraga Olimpiade, atau setidaknya memiliki basis penggemar yang setara dengan judo di Indonesia?



