Evans Kecam Keputusan Queen's: 'Kurang Berkelas' di Tahun Terakhirnya
Baca dalam 60 detik
- Dan Evans, mantan petenis nomor satu Inggris, kecewa karena tidak mendapat wildcard Queen's di tahun terakhirnya sebelum pensiun.
- Petenis berusia 36 tahun itu harus melewati kualifikasi dan langsung tersingkir, sementara wildcard diberikan kepada tiga pemain muda berperingkat lebih tinggi.
- Evans kini menanti keputusan wildcard Wimbledon, berharap kontribusinya selama ini dihargai oleh panitia.

Dan Evans, petenis veteran Inggris yang akan pensiun setelah Wimbledon, melontarkan kritik tajam terhadap panitia Queen's Club Championships setelah tidak diberi wildcard untuk turnamen tersebut. Menurutnya, pemberian wildcard di tahun terakhirnya sebelum gantung raket adalah gestur berkelas yang seharusnya dilakukan, namun kenyataannya ia justru harus berjuang dari babak kualifikasi dan langsung tersingkir.
Evans, yang pernah menempati peringkat 21 dunia pada 2023, mengumumkan pekan lalu bahwa ia akan mengakhiri karier profesionalnya setelah Wimbledon. Namun, pengumuman itu tidak cukup untuk meyakinkan panitia Queen's memberinya tempat di babak utama. Dengan peringkat yang merosot ke posisi 244 akibat cedera beruntun, Evans hanya bermain di dua turnamen sepanjang 2026 menjelang Queen's. Alih-alih mendapat wildcard, ia harus masuk melalui kualifikasi dan kalah di babak pertama dari petenis Amerika Serikat, Marcos Giron, unggulan keenam.
Tiga wildcard untuk babak utama Queen's justru diberikan kepada Jack Pinnington Jones, Arthur Fery, dan Toby Samuel, yang seluruhnya berada di peringkat atas 150 dunia. "Anda berharap pengabdian bertahun-tahun untuk negara mungkin bisa memberi satu wildcard di turnamen terakhir Anda di Queen's, tapi ternyata tidak seperti itu," ujar Evans, yang juga menjadi bagian dari tim Inggris yang merebut Piala Davis 2015 setelah 79 tahun puasa gelar. "Mereka memilih pemain muda, itu hak mereka. Tapi akan menjadi gestur berkelas jika saya diberi wildcard, dan jelas itu tidak terjadi."
Evans juga menyoroti bahwa ia tidak dianggap serius meski telah membuktikan diri sebagai pemain profesional. "Saya pikir beberapa orang lupa bahwa saya adalah pemain tenis profesional. Saya tidak akan bermain jika tidak siap atau fit. Saya merasa tidak dianggap serius," tegasnya. Situasi serupa dialami Tatjana Maria, juara Queen's wanita 2025, yang juga tidak mendapat wildcard dan harus melalui kualifikasi. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi kebijakan wildcard di turnamen bergengsi tersebut.
Kini perhatian Evans beralih ke Wimbledon, yang akan mengumumkan wildcard pada Selasa mendatang. All England Club dapat memberikan hingga delapan wildcard untuk babak utama tunggal putra. Evans, yang tiga kali mencapai babak ketiga Wimbledon, sudah dipastikan mendapat tempat di kualifikasi berdasarkan peringkat. Namun, panitia Wimbledonโyang memberikan wildcard berdasarkan performa masa lalu atau untuk meningkatkan minat publik Inggrisโbisa mempromosikannya ke babak utama. "Jika mereka memberi saya atau tidak, itu bukan keputusan saya. Saya merasa sudah cukup banyak membantu tenis Inggris, di dalam dan luar lapangan. Saya berharap mendapat satu," pungkas Evans.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kisah Evans menjadi pengingat bahwa pengabdian dan prestasi masa lalu tidak selalu menjamin perlakuan istimewa di dunia olahraga profesional. Di tengah hiruk-pikuk turnamen grand slam dan sirkuit ATP, keputusan wildcard seringkali menjadi sorotan karena menyangkut karier dan harga diri pemain. Apakah Wimbledon akan memberikan penghormatan terakhir kepada salah satu petenis veteran Inggris? Ataukah Evans harus mengakhiri kariernya melalui babak kualifikasi? Jawabannya akan diketahui dalam beberapa hari ke depan.



