US Open 2026 di Shinnecock: Pelajaran dari Dua Edisi Kontroversial
Baca dalam 60 detik
- USGA mengakui kegagalan penyelenggaraan US Open 2004 dan 2018 di Shinnecock Hills akibat kondisi lapangan yang ekstrem.
- Untuk edisi 2026, fairways akan diperlebar, kecepatan green dikurangi, dan pendekatan lebih fleksibel terhadap cuaca.
- Perubahan ini diharapkan menghasilkan kompetisi yang lebih adil tanpa mengurangi esensi ujian golf paling berat di dunia.

Setelah dua kali penyelenggaraan yang berujung kontroversi, United States Golf Association (USGA) berjanji membawa angin segar pada US Open 2026 di Shinnecock Hills. Lapangan di Long Island, New York, yang dikenal sebagai salah satu venue paling brutal dalam sejarah turnamen, akan dihadirkan dengan pendekatan yang lebih manusiawi tanpa mengorbankan standar tantangan bagi para pegolf elit dunia.
Shinnecock Hills bukanlah lapangan biasa. Terletak di pesisir, tanpa pepohonan, dan kerap diterpa angin kencang, venue ini menawarkan karakter mirip links course yang membuat bola bergulir cepat dan sulit dikendalikan. Pada 2004, green nomor tujuh harus disiram di tengah putaran karena kondisi yang tidak dapat dimainkan. Retief Goosen akhirnya menjuarai turnamen dengan permainan putting yang legendaris. Namun, empat belas tahun kemudian, masalah justru semakin parah.
US Open 2018 di Shinnecock menjadi mimpi buruk. Angin kencang membuat rata-rata skor putaran pertama lebih dari enam over par. Rory McIlroy gagal menembus 80, sementara Scott Gregory mencatat 92. Pada putaran ketiga, Phil Mickelson kehilangan kesabaran dan memukul bola yang masih bergerakโsebuah pelanggaran yang mengundang sorotan tajam. "Saya belum pernah melihat lapangan berubah secepat itu," ujar Justin Rose, yang menggambarkan pengalaman itu sebagai "sangat mengejutkan".
Kritik utama saat itu tertuju pada USGA yang mempersempit fairways dan membiarkan rough setinggi lima inci. Hasilnya, hanya Brooks Koepka yang finis satu over par, unggul satu pukulan dari Tommy Fleetwood. Tidak ada satu pun pegolf yang mencetak skor di bawah par selama empat putaran. Situasi ini memicu pertanyaan besar: apakah USGA terlalu keras dalam mendesain ujian?
John Bodenhamer, pejabat USGA yang bertanggung jawab atas set-up lapangan, mengakui bahwa kondisi pada 2004 dan 2018 tidak ideal. "Kami belajar banyak," katanya dalam wawancara dengan podcast No Laying Up. "Shinnecock sangat berbeda dari tempat lain, terutama dengan cuaca dan green berpasir. Kami akan melakukan beberapa hal berbeda pada 2026." Salah satu perubahan utama adalah membiarkan fairways tetap selebar biasanya, sehingga pemain memiliki lebih banyak pilihan pukulan. Namun, rough tebal masih akan menjadi hukuman bagi mereka yang melenceng.
Sejak kepergian direktur USGA Mike Davis pada 2021, US Open terlihat lebih adil. Skor kemenangan tidak lagi dipatok pada level par. Matt Fitzpatrick menang enam under pada 2022, Wyndham Clark sepuluh under pada 2023, dan Bryson DeChambeau enam under tahun lalu. "Ibu Alam selalu punya tempat duduk di meja, dan di Shinnecock mungkin lebih dari tempat lain," ujar Bodenhamer kepada Golf Digest. "Jika ada angin, lapangan akan melawan skor. Jika tidak, ya tidakโdan kami menerima itu."
Bagi Indonesia, meskipun tidak memiliki pegolf yang berlaga di US Open, ajang ini tetap menarik karena menunjukkan evolusi tata kelola olahraga golf global. Pelajaran dari Shinnecock bisa menjadi referensi bagi penyelenggara turnamen di Indonesia, seperti Indonesia Open, dalam menyeimbangkan tantangan dan kewajaran kompetisi. Selain itu, popularitas golf di Indonesia yang terus tumbuh menjadikan US Open sebagai tontonan yang dinanti, terutama dengan hadirnya bintang seperti Scottie Scheffler, Rory McIlroy, dan Jon Rahm.
Pertanyaan besarnya: akankah pendekatan baru ini cukup untuk meredam kritik? Atau justru akan mengurangi esensi US Open sebagai ujian paling berat? Yang jelas, Shinnecock 2026 akan menjadi ujian tidak hanya bagi para pegolf, tetapi juga bagi kredibilitas USGA dalam menyelenggarakan turnamen yang adil dan spektakuler.



