Kapten Inggris Ben Stokes dalam Sorotan: McCullum Khawatir, Masa Depan Belum Jelas
Baca dalam 60 detik
- Pelatih kepala Inggris Brendon McCullum menyatakan kekhawatiran mendalam terhadap kondisi Ben Stokes usai insiden pelanggaran jam malam.
- Stokes dan Gus Atkinson dicoret dari Tes kedua melawan Selandia Baru karena insiden klub malam, Joe Root ditunjuk sebagai kapten pengganti.
- Pihak ECB belum memberikan dukungan terbuka untuk Stokes sebagai kapten, meninggalkan tanda tanya besar atas kelanjutan kepemimpinannya.

Kekhawatiran mendalam meliputi masa depan Ben Stokes sebagai kapten tim kriket Inggris setelah pelatih kepala Brendon McCullum berulang kali menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi sang pemain, namun enggan memberikan jaminan soal jabatan kapten. Insiden pelanggaran jam malam di sebuah klub malam London pekan lalu memicu serangkaian pertanyaan tentang stabilitas kepemimpinan tim yang tengah menjalani tur melawan Selandia Baru.
Stokes dan bowler cepat Gus Atkinson dinyatakan tidak tersedia untuk Tes kedua di The Oval menyusul investigasi atas insiden tersebut. Dalam perayaan kemenangan Tes pertama di Lord's, keduanya melanggar jam malam tengah malam tim Inggris. Saat itu, seorang anggota staf keamanan Inggris dilaporkan dipukul oleh pemain rugby Saracens. Akibatnya, Inggris melakukan empat perubahan dalam susunan pemain untuk Tes kedua, dengan Joe Root menggantikan Stokes sebagai kapten, serta memanggil Jofra Archer, Matthew Fisher, dan dua pemain debutan Sonny Baker serta Jordan Cox.
Dalam konferensi pers yang suram di The Oval, McCullum menolak berspekulasi soal masa depan Stokes sebagai kapten. “Kekhawatiran kami adalah pada Ben, memastikan dia baik-baik saja. Keputusan lain akan berjalan seiring waktu,” ujarnya. Pernyataan ini muncul setelah direktur kriket Rob Key pekan lalu juga tidak memberikan dukungan penuh terhadap Stokes sebagai kapten, meski mengakui tidak ada alasan bagi Stokes untuk tidak bermain lagi untuk Inggris.
Stokes, yang telah memimpin Inggris sejak 2022 dengan catatan kemenangan terbaik sejak 1981, menggambarkan kekalahan Ashes 4-1 di Australia musim dingin lalu sebagai “masa tersulit” sebagai kapten. McCullum menegaskan komunikasi harian dengan Stokes, namun ketika ditanya tentang kemungkinan Stokes kembali berlatih dan bermain untuk Durham, pelatih asal Selandia Baru itu menjawab dengan nada berat: “Saya khawatir tentang Ben. Itu saja.”
Insiden ini menambah daftar panjang masalah di luar lapangan yang dihadapi Inggris musim dingin lalu. Kapten white-ball Harry Brook dipukul oleh bouncer klub malam di Wellington, sementara Ben Duckett ditemukan dalam keadaan mabuk oleh publik di Noosa. Inggris kemudian memberlakukan jam malam tengah malam, yang justru dilanggar oleh Stokes dan Atkinson. McCullum mengaku awalnya “bingung, marah, dan kecewa” saat mengetahui pelanggaran tersebut, namun kemudian berubah menjadi kekhawatiran terhadap Stokes.
Meskipun ECB secara pribadi membantah adanya desakan agar Stokes mundur, ketiadaan dukungan publik dari dua figur kunci—Key dan McCullum—menimbulkan spekulasi. McCullum menekankan pentingnya menjaga kegembiraan dalam tim, namun mengakui bahwa “kelebihan adalah situasi berbahaya.” Ia menolak mendukung larangan total alkohol yang disarankan Key, dengan alasan perlunya keseimbangan antara perayaan dan disiplin.
Bagi penggemar kriket di Indonesia, kisruh kepemimpinan Inggris ini menjadi pengingat bahwa tekanan di level tertinggi olahraga bisa berdampak serius pada kesehatan mental atlet. Stokes, yang pernah mengambil cuti pada 2021 untuk memulihkan kondisi mentalnya, kini kembali menghadapi sorotan. Pertanyaannya, mampukah ia bangkit lagi seperti sebelumnya, atau justru beban kapten yang semakin berat akan membuatnya mundur?



