Brunei Luncurkan Proyek Konservasi Penyu: Dari Kampanye ke Aksi Nyata
Baca dalam 60 detik
- Poni Foundation meresmikan pusat penetasan penyu di Meragang pada 14 Juni, menandai pergeseran dari kesadaran ke implementasi konservasi.
- Proyek TRACKS Brunei mengintegrasikan perlindungan habitat, pemantauan, dan edukasi masyarakat, dengan potensi perluasan ke ekosistem laut lain.
- Aksi bersih pantai massal digelar bersamaan, menekankan bahwa konservasi penyu dimulai dari kebersihan pantai dan perilaku bertanggung jawab.

Poni Foundation, didukung oleh Poni Group dan Baiduri Bank, akan memulai pembangunan pusat penetasan penyu di Marine Biodiversity Centre, Meragang, pada Minggu (14 Juni) sebagai bagian dari Ocean Week Brunei dan Brunei Mid-Year Conference and Exhibition (MYCE) 2026. Langkah ini menandai transisi dari kampanye kesadaran ke aksi konservasi yang terukur di lapangan.
Proyek yang diberi nama TRACKS Brunei—akronim dari Tracking, Research, Awareness, Conservation and Knowledge for Sustainable Livelihoods—merupakan salah satu proyek percontohan ekonomi biru andalan Poni Foundation. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada penyu, tetapi dirancang sebagai platform keanekaragaman hayati laut yang lebih luas, dengan potensi mencakup duyung, hiu paus, lumba-lumba, lamun, dan ekosistem pesisir lainnya di masa depan.
Menurut pernyataan resmi Poni Foundation, upacara peletakan batu pertama akan dilakukan secara tertutup dengan undangan terbatas, mengutamakan keselamatan lokasi dan perlindungan habitat. Pergerakan di area proyek akan diatur ketat untuk menghindari gangguan pada bukit pasir, vegetasi, batas penetasan, dan zona sensitif tempat penyu bertelur. Hal ini menegaskan bahwa konservasi penyu membutuhkan pemantauan jangka panjang, edukasi, kerja sama komunitas, dan perilaku pesisir yang bertanggung jawab.
Bagi Indonesia, inisiatif ini relevan mengingat negara ini memiliki garis pantai panjang yang menjadi habitat penyu, seperti di Bali, Jawa Timur, dan Papua. Program serupa dapat menjadi model bagi daerah-daerah yang menghadapi ancaman sampah plastik dan degradasi pantai. “Konservasi penyu tidak bisa hanya bersifat seremonial; harus ada aksi nyata di lapangan yang melibatkan masyarakat,” ujar seorang pejabat konservasi yang dihubungi secara terpisah.
Seiring dengan peresmian pusat penetasan, aksi bersih pantai massal juga akan digelar di Pantai Meragang pada hari yang sama mulai pukul 06.00 hingga 10.00 waktu setempat, dengan slogan ‘Melindungi Pantai Brunei, Satu Pembersihan pada Satu Waktu’. Kegiatan ini menekankan bahwa konservasi penyu dimulai dari tindakan praktis seperti mengurangi penggunaan plastik dan membuang sampah pada tempatnya. Meskipun satu aksi bersih-bersih tidak bisa menyelesaikan polusi laut secara keseluruhan, kegiatan ini membangun kesadaran dan tanggung jawab bersama.
Ke depan, proyek ini akan memasuki tahap persiapan lahan, perencanaan konstruksi, desain pemantauan, dan kegiatan edukasi. Pertanyaan yang muncul adalah apakah model konservasi berbasis komunitas seperti ini dapat direplikasi di negara lain, termasuk Indonesia, untuk mengatasi ancaman kepunahan penyu yang semakin mendesak?



