Zidane Resmi Nahkodai Prancis: Antara Warisan Juara dan Teka-Teki Taktik
Baca dalam 60 detik
- Zinedine Zidane akhirnya mewujudkan ambisinya menjadi pelatih timnas Prancis setelah menolak tawaran klub lain selama lima tahun, menggantikan Didier Deschamps yang akan mundur setelah Piala Dunia 2026.
- Keputusan ini mendapat sambutan hangat dari pemain dan publik, namun tantangan mengelola bintang seperti Kylian Mbappe dan rekan-rekannya menjadi ujian pertama bagi pelatih berusia 54 tahun tersebut.
- Laga perdana Zidane pada September 2025 melawan Turki, Belgia, dan Italia di ajang Nations League akan menjadi ajang uji coba awal gaya kepelatihannya yang masih diselimuti misteri.

Zinedine Zidane resmi memegang kendali tim nasional Prancis setelah 14 tahun era Didier Deschamps berakhir. Dalam konferensi pers di Paris, Selasa (11/3/2025), legenda sepak bola itu mengaku hanya menginginkan pekerjaan ini meskipun telah menolak puluhan tawaran klub top Eropa selama setengah dekade terakhir.
Negosiasi antara Zidane dan Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) dimulai pada Februari 2025, setelah Deschamps mengumumkan pengunduran dirinya usai Piala Dunia 2026. Keputusan yang sudah menjadi rahasia umum itu akhirnya diresmikan, menjadikan Zidane sebagai pelatih ke-12 Les Bleus.
Bagi pencinta sepak bola Indonesia yang mengidolakan Zidane, keputusan ini membawa nuansa romantisme tersendiri. Namun, tantangan mengelola skuad bertabur bintang seperti Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, Desire Doue, dan Michael Olise bisa menjadi ujian terberat dalam karier kepelatihannya. Apalagi, Zidane hanya pernah melatih Real Madrid dan telah vakum selama lima tahun.
Zidane, yang merupakan rekan setim Deschamps saat juara Piala Dunia 1998, memiliki pendekatan pragmatis yang mirip dengan pendahulunya. Namun, dalam sesi perkenalan, ia menegaskan ingin melakukan sesuatu yang berbeda. "Saya tidak bisa menjelaskan dalam dua kata bagaimana kami akan menang. Saya harus bertemu pemain dulu," ujar Zidane. Gaya menyerang yang dibangun Deschamps—dibuktikan dengan 20 gol di turnamen terakhir—diyakininya sebagai fondasi yang kokoh untuk dikembangkan.
Sambutan hangat mengalir dari para pemain. Mbappe menyambut kedatangan Zidane melalui Instagram dengan ucapan "Selamat datang di rumah". Mantan rekan setimnya, Bixente Lizarazu, menyatakan Zidane lebih dari layak karena pengalamannya menangani pemain besar dan ego tinggi di Real Madrid. Dengan status ikonik sebagai mantan pemain yang dihormati, Zidane dapat menjadi figur yang mampu mengimbangi—bahkan melampaui—popularitas pemain bintangnya.
Jadwal padat menanti di awal masa kepelatihan Zidane. Empat laga Nations League pada September mendatang akan menjadi ajang pertama: tandang ke Turki, dua pertandingan melawan Belgia, dan laga kandang melawan Italia di Stade de France. Pertandingan melawan Italia, yang juga merupakan tempat Zidane pernah bersinar bersama Juventus, menjadi simbol awal era baru.
Dengan modal dukungan publik yang hampir tanpa cela, Zidane memiliki ruang untuk bereksperimen secara taktik dan memperkenalkan wajah baru. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah ia akan membawa revolusi atau sekadar melanjutkan kesuksesan Deschamps? Hanya waktu yang akan menjawab, terutama saat persaingan di Piala Dunia 2026 semakin dekat.



