Stasiun Kereta Maut Perang Dunia II Muncul dari Dasar Waduk Thailand
Baca dalam 60 detik
- Penurunan muka air Waduk Vajiralongkorn untuk perawatan bendungan mengungkap Stasiun Nithe, titik penting di jalur kereta 'Death Railway' yang dibangun Jepang.
- Para peneliti berlomba mendokumentasikan situs sebelum musim hujan menggenanginya kembali, menemukan paku rel dan artefak perang lainnya.
- Kemunculan stasiun ini menjadi pengingat tragedi kemanusiaan yang menewaskan lebih dari 12.500 tawanan perang Sekutu dan 75.000 pekerja paksa Asia.

Penurunan drastis permukaan air Waduk Vajiralongkorn di Thailand barat untuk keperluan perawatan bendungan telah menguak sisa-sisa Stasiun Nithe, salah satu titik penting di jalur kereta api 'Death Railway' yang dibangun Jepang pada Perang Dunia II. Fenomena langka ini memicu para sejarawan dan peneliti dari berbagai negara untuk bergegas mendokumentasikan situs tersebut sebelum air kembali menenggelamkannya.
Stasiun yang tenggelam selama puluhan tahun itu muncul setelah Otoritas Pembangkit Listrik Thailand mengeringkan waduk untuk perawatan rutin Bendungan Vajiralongkorn. Namun, waktu penelitian sangat terbatas. Perawatan bendungan dijadwalkan selesai pada Agustus mendatang, dan musim hujan Asia Tenggara yang akan segera tiba diperkirakan akan mengisi kembali waduk, menenggelamkan stasiun itu lagi.
Nithe merupakan stasiun utama di sepanjang jalur kereta sepanjang 415 kilometer yang menghubungkan Thailand (dulu Siam) dengan Myanmar (dulu Burma). Jalur ini dibangun oleh sekitar 60.000 tawanan perang Sekutu—terutama dari Australia, Inggris, Amerika Serikat, dan Indonesia (saat itu Hindia Belanda)—serta ratusan ribu pekerja paksa Asia yang disebut Jepang sebagai rōmusha. Lebih dari 12.500 tawanan dan 75.000 pekerja paksa tewas selama pembangunan, menjadikannya salah satu proyek konstruksi paling mematikan dalam sejarah.
Peneliti independen asal Australia, Martyn Fryer, terbang dari Perth untuk melihat langsung situs tersebut. Kakeknya tewas sebagai tawanan perang yang bekerja di jalur kereta setelah ditangkap di Singapura pada 1942. Dengan detektor logam, Fryer menyisir tanggul rel bersejarah dan menemukan paku besi, staples jembatan, serta artefak perang lainnya. "Saya sudah tiga kali ke Stasiun Nithe sebelumnya, tetapi permukaan air selalu terlalu tinggi untuk benar-benar menghargai infrastruktur yang tersisa," ujarnya.
Andrew Snow, peneliti dari Thailand-Burma Railway Centre, menjelaskan bahwa musim kemarau Asia Tenggara sering kali memperlihatkan sebagian stasiun. Namun, tahun ini permukaan air mencapai titik terendah dan surut begitu cepat sehingga vegetasi belum sempat tumbuh kembali, memudahkan penelitian. "Kesempatan ini bagus untuk melakukan survei. Ketika berurusan dengan kerabat orang yang bekerja di jalur kereta, selalu menyenangkan bisa menunjukkan area tempat mungkin kerabat mereka bekerja," kata Snow, yang ayahnya juga menjadi tawanan perang di jalur tersebut.
Fenomena ini menarik perhatian luas di Thailand. Kitti Laokham, warga lokal berusia 47 tahun, mengunggah video Stasiun Nithe yang telah ditonton 32 juta kali di media sosial. Ratusan pengunjung Thailand berbondong-bondong ke lokasi. Channarong Noimala, misalnya, menempuh perjalanan 350 kilometer dengan sepeda motor dari Bangkok untuk melihat stasiun yang terungkap. "Setidaknya bagi mereka yang meninggal di sini, baik pekerja maupun tawanan perang, kita bisa mengingat mereka," ujarnya.
Sekitar 100 kilometer di barat daya Nithe terdapat Hellfire Pass, bagian jalur kereta yang sangat berat di pegunungan tempat ratusan tawanan tewas. Pusat Interpretasi Hellfire Pass, yang didanai pemerintah Australia, mencatat rekor 169.000 pengunjung tahun lalu—bertepatan dengan peringatan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II. Mick Clarke, veteran Angkatan Darat Australia yang mengelola pusat tersebut, mengatakan, "Seiring waktu, tempat seperti Hellfire Pass menjadi semakin penting. Mereka menjaga kisah pribadi tetap hidup dan membantu generasi mendatang memahami biaya perang."
Bagi Indonesia, 'Death Railway' memiliki resonansi khusus. Ribuan pekerja paksa dari Hindia Belanda—kini Indonesia—ikut menjadi korban dalam proyek tersebut. Kisah ini menjadi pengingat akan penderitaan yang dialami para leluhur di masa penjajahan Jepang. Meski jarang dibahas dalam kurikulum sejarah nasional, tragedi ini adalah bagian dari warisan kelam Asia Tenggara yang patut direnungkan. Kemunculan Stasiun Nithe membuka kembali luka lama sekaligus kesempatan untuk menghormati mereka yang gugur. Akankah Indonesia turut serta dalam upaya dokumentasi dan preservasi situs bersejarah ini?



