Markas Tak Layak, Rayo Vallecano Terpaksa Ngungsi: Konflik dengan Pemilik Memuncak
Baca dalam 60 detik
- Audit keamanan memaksa Rayo Vallecano meninggalkan Estadio de Vallecas setidaknya selama dua bulan; perbaikan darurat dijadwalkan mulai Agustus.
- Kenaikan harga tiket musiman hingga 15% dan hubungan buruk dengan pemilik memperkeruh situasi klub LaLiga tersebut.
- Kasus stadion kumuh ini jadi pengingat bagi klub Indonesia akan pentingnya perawatan infrastruktur dan kepatuhan regulasi.

Rayo Vallecano, finalis UEFA Conference League musim lalu, harus mencari kandang sementara setelah pemerintah regional Madrid mencabut izin penggunaan Estadio de Vallecas akibat kondisi fasilitas yang membahayakan keselamatan.
Keputusan itu diumumkan Selasa (28/7) oleh Mariano de Paco, Kepala Olahraga, Budaya, dan Pariwisata Madrid. Menurutnya, audit teknis menemukan sejumlah pelanggaran serius di stadion yang dibangun tahun 1976 itu, mulai dari instalasi listrik rusak hingga penumpukan sampah yang berisiko memicu kebakaran dan wabah Legionnaires. โKami sudah mencoba memperbaiki, tapi titik tidak bisa kembali lagi tiba. Kelalaian perawatan sudah terbukti. Klub tidak mematuhi aturan, jadi pemerintah harus turun tangan,โ ujar De Paco seperti dikutip media setempat.
Konflik antara suporter dan pemilik klub, Raul Martin Presa, sudah berlangsung bertahun-tahun. Kelompok fans kerap mengkritik minimnya investasi pada stadion yang sebenarnya milik pemerintah daerah dan hanya dikelola oleh Rayo Vallecano. Kini, dengan pencabutan konsesi, Presa harus berhadapan dengan kenyataan: klub kehilangan markas di tengah musim.
Rayo sendiri sudah punya pengalaman pindah kandang. Februari lalu, laga melawan Atletico Madrid digelar di Stadion Butarque milik Leganes karena rumput Vallecas dinyatakan tidak layak. Saat itu, pertandingan berlangsung tanpa penonton tuan rumah yang kecewa. Kini, situasi jauh lebih rumit. Kaus kaki musiman yang baru diluncurkan dengan kenaikan harga 15% (rata-rata โฌ590) memuat klausul force majeure: jika laga tidak bisa digelar di Vallecas, pemilik tiket akan mendapatkan tempat duduk di stadion alternatif dengan kualitas serupa.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kasus Rayo Vallecano menjadi cermin ironis. Di Tanah Air, sejumlah stadion juga menghadapi masalah serupaโdari Kanjuruhan yang berujung tragedi hingga stadion-stadion lain yang kekurangan perawatan. Bedanya, LaLiga dan pemerintah Madrid bertindak tegas demi keselamatan, sementara di Indonesia masih sering terjadi kompromi hingga terjadi insiden fatal. Pelajaran dari Vallecas: audit rutin dan penegakan standar keamanan adalah harga mati.
Ke depan, Rayo harus segera menentukan stadion alternatif untuk laga-laga kandang di LaLiga musim 2024/25. Nama-nama seperti Stadion Metropolitano (Atletico Madrid) atau stadion di kota kecil sekitar Madrid menjadi kandidat. Tapi yang menjadi pertanyaan besar: akankah Raul Martin Presa akhirnya belajar dari krisis ini, atau justru memperdalam jurang dengan suporter? Publik sepak bola Spanyol, dan Indonesia, akan mengawasi.



