Setahun Setelah Kecelakaan Air India, Enam Misteri yang Masih Membayangi Investigasi
Baca dalam 60 detik
- Penyidik India masih belum bisa memastikan penyebab jatuhnya Air India Flight 171 setahun setelah kecelakaan yang menewaskan 260 orang.
- Kontroversi seputar pergerakan sakelar bahan bakar yang diduga disengaja memicu perdebatan sengit antara pilot, keluarga korban, dan otoritas penerbangan.
- Keterlambatan laporan akhir memunculkan spekulasi tentang tekanan politik dan teknis, sementara analisis mesin terus berlangsung.

Setahun setelah Air India Flight 171 jatuh ke kampus sebuah perguruan tinggi kedokteran di Ahmedabad, India, hanya beberapa detik setelah lepas landas, penyidik masih belum bisa menjawab dengan pasti mengapa pesawat jet penumpang paling canggih di dunia itu jatuh. Kecelakaan yang menewaskan 260 orang itu menyisakan enam pertanyaan kunci yang hingga kini belum terpecahkan.
Pembaruan yang dirilis oleh Badan Investigasi Kecelakaan Pesawat India (AAIB) pada peringatan pertama bencana tersebut, Jumat lalu, hanya menyatakan bahwa analisis data perekam penerbangan, sistem pesawat, komponen mesin, catatan perawatan, dan faktor manusia masih berlangsung. Laporan pendahuluan yang diterbitkan Juli lalu menemukan bahwa beberapa detik setelah lepas landas, sakelar kontrol bahan bakar Boeing 787 Dreamliner berusia 12 tahun itu tiba-tiba berpindah ke posisi 'cut-off', membuat kedua mesin kelaparan bahan bakar dan menyebabkan hilangnya tenaga total.
Rekaman kokpit menangkap salah satu pilot bertanya kepada yang lain mengapa ia melakukannya, hanya untuk menerima jawaban: "Saya tidak." Investigasi tidak mengidentifikasi suara siapa pun, meskipun banyak ahli melihat percakapan itu sebagai indikasi kemungkinan tindakan yang disengaja di kokpit. Namun, spekulasi ini memicu reaksi keras dari kelompok pilot, aktivis keselamatan, dan pengacara keluarga korban yang menilai fokus pada kokpit terlalu cepat tanpa bukti yang cukup.
Kapten CS Randhawa, kepala Federasi Pilot India, mendesak penyidik untuk lebih memperhatikan kondisi teknis pesawat, termasuk pesan pemantauan kesehatan terenkripsi yang dikirim sebelum dan selama penerbangan. Laporan pendahuluan tidak menyebutkan pesan-pesan tersebut, yang oleh Randhawa disebut sebagai "tidak lengkap dan penuh celah".
Di tengah kebuntuan, sejumlah teori bersaing bermunculan. Salah satunya adalah kemungkinan kegagalan listrik besar yang memicu reboot komputer penerbangan beberapa detik setelah lepas landas. Menurut hipotesis ini, sistem secara singkat salah mengidentifikasi pesawat berada di darat, sehingga sistem perlindungan memotong bahan bakar ke kedua mesin. Dalam skenario ini, sakelar bahan bakar kokpit tidak pernah dipindahkan secara fisik; perekam data penerbangan mungkin menangkap perintah pemotongan bahan bakar elektronik, bukan gerakan mekanis.
Teori lain datang dari Simon Hradecky dari The Aviation Herald, yang berpendapat bahwa sakelar tersebut mungkin bukan penyebab darurat, melainkan respons kru terhadapnya. Jika mesin sudah kehilangan daya dorong, pilot mungkin menjalankan prosedur memori kegagalan ganda mesin Boeing, yang memerlukan pemindahan kedua sakelar ke 'cutoff' dan kembali ke 'run' untuk mengatur ulang kontrol mesin dan mencoba menyalakan ulang.
Pertanyaan lain menyangkut Ram Air Turbine (RAT), turbin darurat yang menyediakan tenaga cadangan jika kedua mesin mati. Laporan pendahuluan menyebut RAT memberikan tenaga hidrolik dalam waktu lima detik setelah sakelar bahan bakar dipotong. Namun, simulasi menunjukkan proses itu seharusnya memakan waktu 14-18 detik. Jika benar, muncullah teka-teki: apakah RAT menyebar lebih awal dari yang diperkirakan, mungkin sebelum mesin kehilangan tenaga?
Keterlambatan laporan akhir memicu spekulasi tentang sensitivitas politik atau institusional. Seorang investigator veteran asal Kanada yang berbicara secara anonim mengatakan bahwa laporan akhir kadang ditunda karena kesimpulannya "sensitif secara politik atau institusional". Ia memperingatkan bahwa spekulasi yang terus berlanjut tentang penyebab kecelakaan berisiko mengaburkan fakta dan mempersulit penyidik menyelesaikan pekerjaan mereka.
Bagi Indonesia, kecelakaan ini menjadi pengingat pentingnya transparansi investigasi kecelakaan penerbangan. Dengan industri penerbangan yang terus tumbuh, Indonesia perlu memastikan bahwa setiap investigasi dilakukan secara independen dan menyeluruh, tanpa tekanan politik atau kepentingan bisnis. Kasus Air India menunjukkan betapa rumitnya investigasi kecelakaan modern, terutama ketika menyangkut pesawat canggih dengan sistem yang kompleks.
Peter Goelz, mantan direktur pelaksana NTSB AS, menekankan bahwa transkrip kokpit penuh mungkin menjadi kunci. "Kemungkinan masih banyak lagi di perekam suara kokpit daripada yang telah dirilis. Satu komentar - 'mengapa Anda memotong sakelar?' - tidak cukup," katanya. Hanya ketika percakapan kokpit dicocokkan dengan data detik-detik terakhir pesawat, gambaran yang lebih jelas tentang apa yang menjatuhkan jet itu mungkin akan muncul.



