Trump Singgung Netanyahu soal Iran Sebelum Pertemuan: 'Saya Tak Perlu Bibi Beri Tahu Itu'
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump secara terbuka melontarkan kekesalan kepada PM Israel Benjamin Netanyahu jelang pertemuan, terkait bocornya rencana pembicaraan tentang Iran.
- Hubungan kedua pemimpin kian renggang, dengan Trump menilai Netanyahu ingin memperkuat posisi politik domestiknya melalui dukungan AS.
- Pertemuan Trump-Netanyahu dan Zelenskyy berlangsung di tengah titik kritis perang Ukraina dan konflik Timur Tengah, serta upaya Trump memperluas Kesepakatan Abraham.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan rasa kesal terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjelang pertemuan bilateral di Gedung Putih pada Selasa (28/7). Kekesalan itu dipicu bocornya pokok bahasan yang direncanakan Netanyahu—terutama soal fasilitas nuklir Iran—ke publik, yang menurut Trump hanya ingin menjadikan tekanan internasional sebagai alat tawar-menawar.
Dalam wawancara dengan Fox & Friends, Trump mempertanyakan mengapa Netanyahu harus mengumumkan agenda pembicaraan ke dunia ketimbang menyampaikannya langsung. "Saya tidak perlu Bibi memberi tahu saya soal itu. Bibi memberi tahu saya karena dia ingin saya tetap terlibat," ujar Trump, menggunakan panggilan akrab Netanyahu. Trump menambahkan, "Kenapa kau tidak langsung mengatakannya? Kenapa harus diumumkan ke seluruh dunia?"
Bocoran yang dilaporkan New York Post itu menyebut Netanyahu berencana membawa bukti intelijen bahwa Iran terus mengembangkan fasilitas nuklirnya di Pickaxe Mountain—sebuah bunker bawah tanah dekat situs nuklir utama Iran—dan berbohong soal keinginan damai. Kantor Netanyahu belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Trump.
Pertemuan kedua pemimpin ini terjadi setelah Trump menerima Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam dialog tertutup singkat. Zelenskyy, yang tiba di Washington dengan prioritas kerja sama pertahanan anti-balistik dan strategis, mendapat sambutan lebih hangat karena keberhasilan Ukraina menggempur posisi Rusia. Sebaliknya, Netanyahu menghadapi frustrasi Gedung Putih akibat minimnya kemajuan menuju penyelesaian konflik Iran, serta kritik dari pendukung Trump yang menolak keterlibatan AS lebih dalam di Timur Tengah.
Hubungan Trump-Netanyahu memang kerap naik-turun. Pada Juni lalu, Trump secara terang-terangan menyebut Netanyahu dalam panggilan telepon yang bocor sebagai "sinting sekali"—sebuah pernyataan yang kemudian dikonfirmasi Trump sendiri. Kedua pemimpin kini dijadwalkan menghadiri misa peringatan untuk Senator Lindsey Graham, seorang tokoh Republikan yang selama ini menjadi jembatan bagi kepentingan Israel dan Ukraina di Washington.
Dalam pertemuan nanti, Trump diperkirakan akan mendorong perluasan Kesepakatan Abraham—yang sebelumnya dinormalisasi oleh Israel dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan—dengan memasukkan Arab Saudi. Namun, Riyadh menolak bergabung tanpa adanya jalur menuju negara Palestina. Sebagai syarat, Trump mengaitkan kerja sama nuklir sipil dengan Arab Saudi pada kesediaan Riyadh menandatangani kesepakatan tersebut.
Konteks Indonesia: Dinamika pertemuan Trump-Netanyahu dan Zelenskyy ini memiliki dampak tidak langsung terhadap Indonesia, terutama dalam konteks geopolitik Timur Tengah dan tata ulang aliansi global. Indonesia, yang merupakan anggota OKI, kerap menyuarakan dukungan terhadap perjuangan Palestina. Jika Arab Saudi akhirnya bergabung dalam Kesepakatan Abraham tanpa syarat negara Palestina, posisi Indonesia dalam forum internasional seperti OKI dan Gerakan Non-Blok bisa terdesak. Di sisi lain, konflik Iran yang berkepanjangan berpotensi mengganggu rantai pasok energi global—termasuk minyak dan gas yang masih menjadi andalan impor Indonesia.
"Perdamaian perlu didekatkan," tulis Zelenskyy di platform X, menandakan urgensi penguatan kerja sama dengan AS. Sementara itu, seorang analis dari lembaga riset kebijakan luar negeri menilai bahwa Trump cenderung menggunakan pertemuan kenegaraan sebagai ajang konsolidasi politik domestik, bukan semata-mata diplomasi.
Zelenskyy sendiri dijadwalkan melanjutkan pertemuan dengan para senator di Capitol Hill setelah sesi di Gedung Putih. Ia diperkirakan akan mendesak penuntasan kesepakatan pembelian drone serta izin produksi sistem Patriot di Ukraina—janji yang sebelumnya diungkapkan Trump dalam KTT NATO. Sementara itu, Netanyahu pulang dengan membawa hasil yang belum pasti: apakah dukungan Trump cukup kuat untuk menyelamatkan kursinya pada pemilu mendatang? Atau justru sebaliknya—sikap dingin Trump kian memperlemah posisinya di mata pemilih Israel? Hanya waktu yang akan menjawab.



