IHSG Tembus 6.000 Lagi: Sinyal Kepercayaan Pasar ke BUMN Menguat
Baca dalam 60 detik
- IHSG menembus level psikologis 6.000 pada Jumat (12/6/2026), didorong akumulasi beli saham BUMN di sektor pertambangan, perbankan, dan telekomunikasi.
- COO Danantara Dony Oskaria menyebut kebangkitan ini buah dari transformasi BUMN dan koordinasi kebijakan fiskal-moneter yang solid.
- Bank Indonesia memangkas suku bunga ke 5,50% pada 9 Juni, diikuti konsolidasi parlemen-gubernur BI-menteri, memperkuat sentimen positif pasar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menembus level psikologis 6.000 pada perdagangan Jumat (12/6/2026), menandai kebangkitan pasar modal Indonesia yang sempat tertekan dalam beberapa pekan terakhir. Penguatan ini didorong oleh aksi beli masif terhadap saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN), terutama di sektor pertambangan, perbankan pelat merah (Himbara), dan PT Telkom Indonesia.
Sejak sesi pembukaan, investor domestik dan asing secara agresif mengakumulasi saham BUMN. Saham pertambangan BUMN tercatat melonjak hingga 7 persen. Kepercayaan terhadap fundamental BUMN yang solid menjadi katalis utama yang membalikkan arah IHSG ke zona hijau, setelah sempat mengalami tekanan akibat ketidakpastian global dan gejolak pasar keuangan.
Chief Operating Officer Danantara sekaligus Kepala Badan Pengelola BUMN (BP BUMN), Dony Oskaria, menyambut positif pencapaian ini. Menurutnya, dominasi saham BUMN dalam mendorong IHSG bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari transformasi bisnis yang berkelanjutan. “Momentum ini menandakan kebijakan yang kami jalankan berada di jalur tepat. Iklim investasi yang stabil adalah kunci menarik kemitraan strategis bernilai tinggi,” ujar Dony di Jakarta, Jumat (12/6/2026). Ia menambahkan, stabilitas ini juga akan menjaga harga kebutuhan pokok dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat luas.
Kebangkitan IHSG dan penguatan rupiah tidak lepas dari sinergi cepat antara pemerintah dan otoritas moneter. Pada 9 Juni, Bank Indonesia (BI) secara taktis menurunkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen, langkah yang langsung memulihkan kepercayaan investor. Keputusan ini diperkuat oleh konsolidasi kebijakan yang diinisiasi Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad. Dalam sepekan terakhir, Dasco menggelar serangkaian pertemuan tertutup—dimulai pada 6 Juni bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur BI Perry Warjiyo, Mensesneg Prasetyo Hadi, dan pimpinan Komisi XI DPR. Pertemuan berlanjut pada 9 Juni dengan melibatkan perwakilan Danantara, Himbara, BPJS, dan asuransi BUMN.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia, khususnya perbankan, sangat kuat. “Alhamdulillah, sesungguhnya fundamental ekonomi kita, khususnya dari sisi perbankan, sangat kuat,” kata Prasetyo di Kompleks Parlemen, Senayan. Ia juga mengapresiasi kolaborasi para pelaku pasar negara, termasuk Dony Oskaria, jajaran Himbara, Taspen, BPJS, dan Indonesia Investment Authority (INA). Prasetyo berjanji pemerintah akan terus bekerja keras menjaga stabilitas ekonomi.
Bagi investor Indonesia, tembusnya IHSG ke 6.000 menjadi sinyal bahwa koordinasi kebijakan fiskal-moneter mulai membuahkan hasil. Langkah BI memangkas suku bunga memberikan ruang bagi sektor riil dan pasar modal untuk bergerak. Namun, tantangan global seperti kenaikan suku bunga The Fed dan ketidakpastian geopolitik masih membayangi. Ke depan, BP BUMN bersama Danantara berkomitmen mengawal portofolio perusahaan negara agar tetap adaptif. Pertanyaan yang mengemuka: mampukah IHSG bertahan di atas 6.000 dalam jangka panjang, atau ini hanya reli sesaat?



