Fitch Pertahankan Peringkat Utang China di 'A', Stabilitas di Tengah Tekanan Fiskal
Baca dalam 60 detik
- Fitch Ratings mengonfirmasi peringkat utang jangka panjang China di 'A' dengan prospek stabil, didukung ekonomi besar dan peran dagang global.
- Defisit tinggi, utang pemerintah mendekati 80% PDB pada 2028, dan risiko kewajiban kontinjensi dari LGFV menjadi tantangan utama.
- Pertumbuhan PDB diperkirakan melambat ke 4,6% pada 2026, dengan konsumsi domestik lemah namun sektor manufaktur dan ekspor tetap tangguh.

Fitch Ratings mempertahankan peringkat utang jangka panjang China di level 'A' dengan prospek stabil, menegaskan ketahanan ekonomi negara tersebut di tengah gejolak tarif global dan tekanan fiskal domestik. Lembaga pemeringkat internasional itu menyoroti ukuran ekonomi yang besar dan terdiversifikasi, serta peran integral China dalam rantai pasok global sebagai pilar utama peringkat tersebut.
Meski demikian, Fitch mengingatkan bahwa tantangan jangka menengah masih membayangi keuangan publik China. Defisit anggaran yang lebar, pendapatan negara yang menurun, dan utang pemerintah yang terus meningkat menjadi faktor pengimbang. Rasio utang pemerintah diperkirakan mencapai hampir 80% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2028, naik dari 68,5% pada 2025. Lonjakan ini didorong oleh defisit yang persisten dan program pertukaran utang pemerintah daerah dengan kendaraan pembiayaan daerah (LGFV).
Fitch memperkirakan pertumbuhan ekonomi China akan melambat dari 5% pada 2025 menjadi 4,6% pada 2026, seiring dengan kondisi eksternal yang tidak menentu. Ekspor dan aktivitas manufaktur diperkirakan tetap menjadi penopang utama. Namun, permintaan domestik masih lesu. Keyakinan rumah tangga lemah akibat efek kekayaan properti dan pasar tenaga kerja yang lunak, sehingga membebani konsumsi barang. Sektor jasa menunjukkan kinerja lebih baik, sementara investasi meningkat pada kuartal I-2026 karena percepatan belanja infrastruktur pemerintah daerah.
Dari sisi inflasi, China mulai keluar dari deflasi yang berlangsung sekitar tiga tahun. Indeks harga konsumen diperkirakan rata-rata 1,2% pada 2026, naik dari 0,1% pada 2025. Inflasi harga produsen melonjak tajam pada April didorong oleh kenaikan biaya energi dan kebijakan anti-persaingan ketat. Meski demikian, Fitch memperkirakan inflasi tetap rendah seiring lemahnya permintaan domestik.
Kebijakan fiskal diperkirakan sedikit kontraktif. Defisit anggaran diproyeksikan menyempit menjadi 7,3% PDB pada 2026 dari 7,6% pada 2025. Belanja masih condong ke investasi sisi penawaran, meski ada dukungan tambahan untuk konsumsi melalui skema tukar barang. Pemerintah pusat terus memperbesar peran fiskal melalui transfer ke pemerintah daerah, termasuk penerbitan obligasi khusus ultra-panjang senilai CNY1,3 triliun pada 2026.
Fitch mencatat bahwa penurunan pendapatan struktural mempersulit upaya pengurangan defisit. Rasio pendapatan terhadap PDB diperkirakan turun menjadi 20,6% pada 2026, dari 29,0% pada 2018, akibat pemotongan pajak dan menurunnya pendapatan dari tanah. Kebutuhan belanja tetap tinggi, terutama untuk investasi di industri maju dan penguatan jaring pengaman sosial guna mendorong pertumbuhan berbasis konsumsi.
Program pertukaran utang senilai CNY10 triliun selama lima tahun untuk mengatasi utang LGFV atau "utang tersembunyi" telah membantu mengurangi tekanan pasar dan biaya pendanaan. Namun, Fitch menilai risiko fiskal masih lebih tinggi dari yang ditunjukkan metrik fiskal, mengingat persepsi dukungan pemerintah implisit terhadap entitas tertentu. Utang korporasi non-keuangan China termasuk tertinggi global, mencapai 174,7% PDB pada akhir kuartal IV-2025, dan sebagian besar dibiayai oleh sektor keuangan yang didominasi negara.
Bagi Indonesia, stabilitas peringkat utang China menjadi sinyal positif di tengah ketidakpastian ekonomi global. China merupakan mitra dagang utama Indonesia, dan pertumbuhan ekonominya yang stabil dapat mendukung permintaan ekspor komoditas Indonesia. Namun, risiko perlambatan konsumsi China perlu diwaspadai karena dapat menekan harga komoditas dan volume ekspor. Selain itu, kebijakan fiskal China yang cenderung kontraktif berpotensi mengurangi stimulus bagi perekonomian global.
Ke depan, Fitch memperkirakan pertumbuhan China rata-rata 4,3% hingga 2029, lebih tinggi dari negara-negara dengan peringkat serupa. Fokus pemerintah pada peningkatan industri dan investasi di sektor manufaktur canggih serta teknologi, sebagaimana diamanatkan dalam Rencana Lima Tahun ke-15, diharapkan mendukung pertumbuhan. Namun, konsumsi yang lemah, tekanan demografi, dan ketidakpastian perdagangan global menjadi risiko penurunan. Pertanyaan besarnya, mampukah China menyeimbangkan transformasi struktural dengan stabilitas fiskal jangka panjang?



