Red Bull Rekrut Pakar Pembibit Mercedes untuk Pimpin Program Junior
Baca dalam 60 detik
- Gwen Lagrue, arsitek program junior Mercedes yang sukses membesarkan George Russell dan Kimi Antonelli, akan pindah ke Red Bull pada 2025.
- Kepergian Helmut Marko meninggalkan celah besar di lini pembinaan bakat Red Bull, yang kini diisi oleh pakar berpengalaman dari rival.
- Langkah ini menandai intensifikasi perburuan bakat muda F1, dengan Red Bull berupaya mempertahankan dominasi jangka panjang.

Tim balap Red Bull resmi menunjuk Gwen Lagrue, mantan kepala program junior Mercedes, sebagai direktur baru program pembinaan pembalap muda mulai tahun depan. Langkah ini menjadi respons atas kepergian Helmut Marko, arsitek utama yang selama puluhan tahun memasok talenta ke lini utama Red Bull.
Lagrue, warga negara Prancis berusia 50 tahun, bergabung dengan Mercedes pada 2015 dan dikenal sebagai dalang di balik kesuksesan pembalap seperti George Russell, Esteban Ocon, dan Alex Albon. Yang terbaru, ia membimbing Kimi Antonelli—pebalap 19 tahun yang disebut-sebut sebagai calon bintang masa depan. Sebelum di Mercedes, Lagrue ikut merintis program pengembangan pembalap Renault.
Dalam pernyataan resmi, Red Bull menyatakan bahwa Lagrue akan bertanggung jawab penuh atas Red Bull Junior Programme, mulai dari identifikasi bakat, pengembangan, hingga promosi ke ajang F1. Ia akan mulai menjabat pada tahun fiskal 2025.
Kepergian Marko—yang berjasa membawa 20 pembalap ke F1, termasuk Sebastian Vettel dan Max Verstappen—meninggalkan warisan berat. Namun, perekrutan Lagrue menunjukkan bahwa Red Bull tidak ingin kehilangan momentum dalam mencetak generasi penerus. Dengan dua tim di grid (Red Bull Racing dan RB), kebutuhan akan bakat segar sangat vital.
Bagi Indonesia, langkah ini patut dicermati. Meskipun belum ada pembalap Indonesia di F1, program junior tim besar seperti Red Bull kerap menjadi jembatan bagi pembalap Asia untuk menembus kancah global. Dengan figur sekaliber Lagrue, peluang bagi bakat dari kawasan ini untuk dilirik dan dibina menjadi lebih terbuka. Terlebih, popularitas F1 di Indonesia terus meningkat, dan kehadiran Lagrue bisa menjadi katalis bagi pengembangan bakat lokal melalui kerja sama atau pencarian talenta regional.
Ke depan, tantangan Lagrue adalah menemukan dan mengasah bakat yang mampu bersaing di level tertinggi. Pertanyaan besarnya: mampukah ia menemukan 'Verstappen baru' yang bisa melanjutkan dominasi Red Bull? Atau justru persaingan dengan akademi Mercedes dan Ferrari akan semakin ketat?



