Danantara Belum Rilis Laporan Keuangan, Ini Alasan di Baliknya
Baca dalam 60 detik
- Hingga pertengahan 2026, Danantara belum mempublikasikan laporan keuangan resmi karena harus mengkonsolidasikan lebih dari seribu perusahaan.
- CEO Rosan Roeslani mengonfirmasi data telah diserahkan ke BPK untuk diaudit, dan tenggat pelaporan jatuh pada akhir Juni.
- Meski laporan belum diaudit, Danantara sukses menerbitkan global bond senilai US$1,5 miliar dengan kelebihan permintaan tiga kali lipat.

Lebih dari setahun setelah diluncurkan pada Februari 2025, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) belum juga merilis laporan keuangan kepada publik. Ketiadaan transparansi ini memicu pertanyaan di kalangan investor dan pengamat, terutama karena Danantara mengelola aset dari ribuan perusahaan negara.
CEO Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan bahwa keterlambatan ini bukan tanpa alasan. Dalam pernyataannya di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (15/6/2026), ia menjelaskan bahwa Danantara harus mengkonsolidasikan laporan keuangan dari lebih dari seribu perusahaan. Proses ini memakan waktu karena kompleksitas data dan regulasi yang mewajibkan penerbitan laporan keuangan pada akhir Juni. "Jadi kita ini konsolidasi seribu perusahaan, dan secara peraturan memang akhir Juni harus menerbitkan laporan keuangan," ujarnya.
Rosan menambahkan bahwa data laporan keuangan Danantara sudah diserahkan kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk diaudit. Langkah ini diambil untuk memastikan akuntabilitas dan kepercayaan publik. "Kita juga sudah serahkan datanya ke BPK, karena BPK yang akan melakukan audit di kami," tuturnya.
Meski laporan keuangan belum diaudit, Danantara telah melakukan road show ke luar negeri dan menawarkan global bond senilai US$1,5 miliar dengan tenor 5 dan 10 tahun. Menariknya, obligasi ini mendapat sambutan positif dari investor global hingga oversubscribe lebih dari tiga kali lipat. Rosan mengklaim bahwa investor diberikan akses terhadap data keuangan Danantara meskipun belum diaudit. "Kita tampilkan data-data kita dan mereka bisa melihat, menghitung, menganalisa. Responnya positif karena kita berikan apa adanya," katanya.
Bagi investor Indonesia, situasi ini menjadi ujian kepercayaan terhadap pengelolaan aset negara yang sangat besar. Danantara dibentuk untuk mengoptimalkan investasi pemerintah, namun transparansi menjadi kunci agar tidak menimbulkan spekulasi. Pengamat menilai bahwa meskipun respons investor global positif, publik Indonesia masih menunggu laporan keuangan yang diaudit sebagai bentuk akuntabilitas.
Ke depan, publikasi laporan keuangan yang diaudit BPK akan menjadi tolok ukur kredibilitas Danantara. Pertanyaan yang mengemuka: apakah keterbukaan data kepada investor global sudah cukup, atau justru sebaliknya, mempertegas kebutuhan akan transparansi penuh di dalam negeri?



