Kekacauan FIGC Berlanjut: Pelatih Timnas Italia Dipilih Sebelum Direktur Teknis
Baca dalam 60 detik
- Paolo Maldini dan Leonardo mundur sebagai direktur teknis FIGC hanya 16 hari setelah diangkat, memicu krisis kepemimpinan di tubuh federasi sepak bola Italia.
- Presiden FIGC Giovanni Malagò dikabarkan akan menunjuk pelatih timnas (favorit Roberto Mancini) terlebih dahulu, bertentangan dengan janji kampanye yang mengutamakan otonomi tim melalui direktur teknis.
- Langkah ini dikritik oleh lawan politik Malagò, Giancarlo Abete, sebagai kembali ke praktik lama yang tidak memberikan perubahan berarti bagi pengelolaan sepak bola Italia.

Kekacauan di Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) kembali memuncak setelah Paolo Maldini dan Leonardo memutuskan mundur dari posisi direktur teknis Club Italia hanya 16 hari setelah pengangkatan mereka. Langkah ini memicu spekulasi bahwa Presiden FIGC Giovanni Malagò akan kembali ke pola lama: memilih pelatih tim nasional sebelum menunjuk direktur teknis—sebuah langkah yang dinilai bertentangan dengan janji reformasi yang ia gaungkan saat kampanye.
Mundurnya Maldini dan Leonardo dipicu oleh kegagalan FIGC dalam merealisasikan otonomi yang dijanjikan untuk tim nasional. Setelah Carlo Ancelotti dan Pep Guardiola menolak tawaran menangani Italia, federasi sempat memilih Andrea Pirlo. Namun, pencalonan Pirlo terganjal perannya sebagai duta global situs judi Rusia, Fonbet, yang dinilai tidak sejalan dengan etika sepak bola. Kebuntuan ini akhirnya mendorong Malta internasional tersebut untuk angkat kaki dari struktur Club Italia yang baru dibentuk.
Giancarlo Abete, yang kalah telak dari Malagò dalam pemilihan presiden FIGC, memberikan komentar pedas. Menurut Abete, keputusan untuk memilih pelatih terlebih dahulu akan menegasikan semangat reformasi yang dijanjikan. "Jika presiden memilih pelatih sebelum direktur teknis, itu berarti tidak ada yang berubah. Kita kembali ke sistem lama di mana segalanya terpusat pada satu orang," ujarnya usai pertemuan darurat di Roma. Abete menambahkan bahwa gagasan memberikan wewenang lebih besar kepada direktur teknis Club Italia sebenarnya juga ia usulkan, namun tampaknya terjadi miskomunikasi dalam implementasinya.
Krisis ini bukan tanpa pelajaran bagi sepak bola Indonesia. PSSI, yang juga kerap berganti struktur pelatih dan manajemen, dapat melihat bahwa konsistensi blueprint jangka panjang sangat penting. Tanpa adanya pemisahan yang jelas antara wewenang presiden federasi dan direktur teknis, risiko kegagalan program tim nasional semakin besar. Di Italia, keputusan sentralistik seperti ini justru membuka pintu konflik kepentingan dan memperlemah kredibilitas federasi.
Ke depan, pertanyaannya adalah: apakah Malagò akan mampu mengembalikan kepercayaan setelah insiden ini? Ataukah Italia kembali terperangkap dalam siklus kekuasaan yang tidak kunjung menghasilkan perubahan berarti? Dengan kualifikasi Piala Eropa 2024 yang sudah di depan mata, stabilitas di kursi pelatih menjadi kebutuhan mendesak—bukan sekadar ajang tarik ulur kepentingan politik.



