Fosil ular Brasil ubah pandangan evolusi: Nenek moyang sudah hidup di bawah tanah
Baca dalam 60 detik
- Spesies baru Tametara mirim dari Brasil berusia 80 juta tahun menjadi bukti tertua ular yang beradaptasi hidup di bawah tanah.
- Tengkorak tiga dimensi yang terawetkan utuh memungkinkan rekonstruksi otak dan menunjukkan adaptasi penglihatan serta struktur tengkorak untuk menggali.
- Temuan ini menantang teori evolusi ular yang selama ini berfokus pada asal-usul di air atau permukaan tanah.

Fosil ular berusia 80 juta tahun yang ditemukan di Brasil mengguncang pemahaman ilmuwan tentang asal-usul ular. Spesies baru bernama Tametara mirim menunjukkan bahwa ular purba sudah beradaptasi hidup di bawah tanah, jauh sebelum spesies modern muncul. Temuan ini menjawab perdebatan panjang tentang apakah nenek moyang ular pertama hidup di air, di permukaan, atau di bawah tanah.
Fosil yang ditemukan di negara bagian São Paulo ini merupakan salah satu yang paling langka. Sebagian besar fosil ular dari Zaman Mesozoikum hanya berupa lempengan pipih akibat tekanan batuan. Dari sepuluh fosil yang pernah ditemukan, hanya tiga yang berbentuk tiga dimensi. Tametara mirim menjadi pengecualian dengan tengkorak utuh berukuran 20 milimeter, lengkap dengan rongga otak dan susunan tulang yang masih tersambung seperti aslinya.
Penelitian yang dipimpin Tiago Simões dari Princeton University, bersama tim dari University of Helsinki dan Museums Victoria Research Institute, menggunakan pemindaian CT resolusi tinggi untuk merekonstruksi rongga otak dan tengkorak. Hasilnya menunjukkan bahwa bagian otak yang mengatur penglihatan, yaitu tektum optik, mengecil—ciri umum hewan yang hidup di bawah tanah. Sistem saluran telinga bagian dalamnya juga sangat sederhana, berbeda dengan hewan permukaan yang membutuhkan keseimbangan lebih rumit. Struktur tulang tengkoraknya padat dan tebal, seperti pada kadal penggali tanah.
“Ular purba tampaknya bereksperimen dengan berbagai cara hidup, bukan mengikuti satu jalur evolusi tunggal,” ujar Nicolas Di-Poï, peneliti dari University of Helsinki, dalam wawancara dengan Earth.com. Perbandingan dengan fosil ular purba lain, Dinilysia, yang memiliki tengkorak kurang padat, memperkuat temuan bahwa adaptasi menggali sudah muncul sejak awal evolusi ular.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki makna tersendiri. Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman ular tertinggi di dunia, termasuk banyak spesies endemik yang hidup di berbagai habitat. Pemahaman tentang evolusi awal ular dapat membantu para peneliti di tanah air dalam mempelajari adaptasi spesies lokal, misalnya ular-ular yang hidup di kawasan karst atau bawah tanah. Studi ini juga menunjukkan pentingnya fosil tiga dimensi dalam mengungkap sejarah evolusi makhluk hidup.
Menurut Di-Poï, alasan pasti Tametara mirim memilih hidup di bawah tanah belum diketahui, tetapi diduga sebagai strategi menghindari predator. Ukuran tubuh yang kecil mungkin menjadi kunci, karena hanya ular berukuran kecil yang mampu membuat lorong di dalam tanah. Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa evolusi ular tidak linear, melainkan bercabang dengan berbagai jalur ekologis sejak awal. Pertanyaan selanjutnya yang terbuka adalah: bagaimana tepatnya transisi dari kehidupan bawah tanah ke permukaan terjadi pada ular modern? Fosil-fosil baru dari berbagai kawasan, termasuk Asia Tenggara, mungkin akan memberikan jawaban.



